Hukum Islam

Pembahasan tentang Bab Rukun Islam dan Rukun Iman.

Al - Qur'an

Al-Qur'an adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia dan bagian dari rukun iman yang disampaikan kepada Nabi Muhammad S.A.W melalui perantaraan Malaikat Jibril; dan wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad adalah sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur'an surat Al-'Alaq ayat 1-5.

Al - Hadits

Hadits adalah perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad yang dijadikan landasan syariat Islam. Hadits dijadikan sumber hukum Islam selain al-Qur'an, dalam hal ini kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah al-Qur'an. Kedudukannya yang lebih lengkap adalah sebagai berikut: Al-Qur'an, Hadits, Ijtihad: Ijma (kesepakatan para ulama), Qiyas (menetapkan suatu hukum atas perkara baru yang belum ada pada masa Nabi Muhammad hidup).

Tauhid

Tauhid adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah. Dalam pengamalannya ketauhidan dibagi menjadi 3 macam yakni tauhid rububiyah, uluhiyah dan Asma wa Sifat. Mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik merupakan konsekuensi dari kalimat syahadat yang telah diikrarkan oleh seorang muslim..

Fiqh

Fikih adalah salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun kehidupan manusia dengan Tuhannya.Beberapa ulama fikih seperti Imam Abu Hanifah mendefinisikan fikih sebagai pengetahuan seorang muslim tentang kewajiban dan haknya sebagai hamba Allah.

Sunnah

Sunnah adalah segala yang di sampaikan oleh Rasulullah saw, baik berupa perkataan perbuatan atau pengakuan atau penetapan. Sunnah dalam Islam mengacu kepada sikap, tindakan, ucapan dan cara rasulullah menjalani hidupnya atau garis-garis perjuangan (tradisi) yang dilaksanakan oleh rasulullah. Sunnah merupakan sumber hukum kedua dalam Islam, setelah Al-Quran. Narasi atau informasi yang disampaikan oleh para sahabattentang sikap, tindakan, ucapan dan cara rasulullah disebut sebagai hadits. Sunnah yang diperintahkan oleh Allah disebut sunnatullah(hukum alam).

Gaya Hidup Islami

Prinsip dasar gaya hidup Islami.

Kumpulan Doa

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. ” (QS. Albaqarah: 186).

Monday, March 21, 2022

Tentang Bid'ah

Allah sang pemilik Bid'ah
Yu simak penjelasannya sampai tuntas agar tidak salah memahaminya

 https://youtube.com/c/OneshareMedia


http://caraislam.weebly.com/ ISLAM ITU INDAH

Thursday, March 17, 2022

Ceramah terbaru Ustad Abdul Somad Lc

Antara suara Adzan dan Gonggongan Anjing

https://youtu.be/c9utFfb2v2c


http://caraislam.weebly.com/ ISLAM ITU INDAH

Monday, July 15, 2019

Panduan Hukum Islam (Tentang Adab)

ADAB HUKUM ISLAM (2)

Adab Berbicara

1. Pikirlah dahulu sebelum berbicara. Bicaralah selalu di dalam hal kebaikan.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman yang artinya,

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.، (An-Nisa: 114)

2. Bicaralah dengan suara yang dapat didengar, tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu rendah, ungkapan-nya jelas, dapat dipahami oleh semua orang dan tidak dibuat-buat atau dipaksa-paksakan.

3. Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna. Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam menyatakan ، Termasuk baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.، (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Maka bicaralah hanya secukupnya.

4. Janganlah kamu membicarakan semua apa yang kamu dengar.

5. Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar. (HR. Muslim).

6. Hindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda.

7. Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Aku menjadi penjamin sebuah istana di taman Surga bagi siapa saja yang menghindari perdebatan sekalipun ia benar; dan penjamin istana di tengah-tengah Surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda. (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

8. Tenanglah dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Bunda Aisyah menuturkan, ،Sesungguhnya apabila Nabi shollallahu alaihi wa sallam membicarakan suatu pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya. (Muttafaq'alaih).

9. Hindari perkataan jorok (keji).

Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Bukankah seorang mukmin (jika ia) pencela, pengutuk atau yang keji pembicaraan-nya. (HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

10. Hindari sikap memaksakan diri dan banyak omong di dalam berbicara.

Hadits Jabir radhiallahu anhu menyebutkan, “Sesungguhnya manu-sia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari Kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpura-pura fasih dan orang-orang yang mutafaihiqun. “Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulllah, apa arti mutafaihiqun?” Nabi menjawab, “Orang-orang yang sombong.” (HR. At-Turmudzi, dinilai hasan oleh Al-Albani).

11. Hindari ghibah (menggunjing) dan mengadu domba. Allah Subhanahu Wa Ta،¦ala berfirman,

12. Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.،¨ (Al-Hujurat: 12).

13. Dengarkan pembicaraan orang lain dengan baik dan tidak memotongnya, juga tidak menampakkan bahwa kita mengetahui apa yang dibicarakannya, tidak meng-anggap rendah pendapatnya atau mendustakannya.

14. Jangan memonopoli pembicaraan, tetapi berikanlah kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.

15. Hindari perkataan kasar, dan ucapan yang menyakitkan perasaan serta tidak mencari-cari kesalahan dari kekeliruan pembicaraan orang lain, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan. Seperti: Mengafirkan, menuduh fasik, memvonis celaka dan sumpah palsu.

16 Hindari sikap mengejek, memperolok-olok dan meman-dang rendah orang yang berbicara.

Allah SWT berfirman yang artinya,

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan).(Al-Hujurat: 11).

17. Jangan terlalu keras bersuara,

Allah SWT berfirman yang artinya,

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkan-lah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS. Lukman :19)

18. Jangan memanggil tuan yang mulia kepada orang fasik.

19. Jangan bersumpah selain dengan nama Allah.

20. Jangan mencaci dan menyalahkan masa, terutama kepada kaum muslimin.

Adab Beda Pendapat

1. Tenanglah dengan niat yang ikhlas dan mencari yang haq serta melepaskan diri dari nafsu di saat berbeda pendapat. Juga menghindari sikap over akting, membela diri, dan emosional.

2. Kembalikan perkara yang diperselisihkan kepada Kitab Al-Qur’an dan Sunnah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Kitab) dan Rasul.” (An-Nisa: 59).

3. Berbaik sangka kepada orang yang berbeda pendapat dan tidak menuduh buruk niatnya serta tidak mencela dan menganggapnya cacat.

4. Janganlah memperuncing perselisihan, tafsirkan penda-pat yang keluar dari lawan atau yang dinisbatkan kepa-danya dengan tafsiran yang baik.

5. Janganlah mudah menyalahkan orang lain, kecuali sesudah diteliti secara mendalam dan dipikirkan secara matang.

6. Berlapangdadalah di dalam menerima kritikan yang ditujukan kepada anda atau catatan-catatan yang dialamatkan kepada anda.

7. Hindarilah permasalahan-permasalahan khilafiyah dan fitnah.

8. Bersikaplah sopan dan berpegang teguh pada adab berdialog dan menghindari perdebatan, bantah-membantah dan kasar menghadapi kawan.

Adab Bercanda

Berhati-hatilah, hendaknya materi bercanda jangan mengandung nama Allah, ayat-ayat-Nya, sunnah rasul-Nya atau syi`ar-syi`ar Islam.

Allah berfirman tentang orang-orang yang memperolok-olokkan shahabat Nabi n, yang ahli baca Al-Qur`an yang artinya:

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan), tentulah mereka menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (At-Taubah: 65-66).

2. Jangan sampai percandaan itu mengandung dusta maupun mengada-ada cerita-cerita khayalan supaya orang lain tertawa.

Rasulullah n bersabda, “Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah.” (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-Albani)

3. Percandaan jangan sekali-kali mengandung unsur menyakiti perasaan seseorang.

Rasulullah bersabda, “Janganlah seseorang di antara kamu mengambil barang temannya apakah itu hanya canda atau sungguh-sungguh; dan jika ia telah mengambil tongkat temannya, maka ia harus mengembalikannya kepadanya.” (HR. Ahmad dan Abu Daud; dinilai hasan oleh Al-Albani).

4. Jangan bercanda terhadap orang yang lebih tua atau terhadap orang yang tidak bisa bercanda atau tidak dapat menerimanya, atau terhadap perempuan yang bukan mahram.

5. Janganlah memperbanyak canda sehingga menjadi tabiatmu, maka menjatuhkan wibawa yang mengaki-batkan mudah dipermainkan oleh orang lain.

Adab Bergaul

1. Perhatikan perasaan orang lain dan hormatilah, jangan menghina atau memandang mereka cacat, mencela dan memanggil dengan julukan jelek. (al-Hujurat : 11).

2. Jagalah dan perhatikan kondisi orang, mengenali karakter dan akhlaq mereka, lalu bergaul dengan mereka, masing-masing dengan sepantasnya dan ahlaq sebaik-baiknya. (Al-Bukhari: 6035, Ahmad: 6468, Tirmidzi: 1975, 3421, Muslim: 771)

3. Tempatkan orang lain pada kedudukannya dan masing-masing beri haknya dan hargailah.

4. Perhatikan, kenalilah keadaan dan kondisi mereka, dan menanyakan keadaan mereka dan jagalah rahasianya. (Tirmidzi: 1959, Abu Dawud: 4868, Ahmad: 14820, Bukhari: 6289, Muslim: 2482).

5. Tawadhu’lah kepada orang lain dan tidak merasa lebih tinggi atau takabbur dan bersikap angkuh terhadap mereka. (Muslim: 2865, Abu Dawud: 4895, Ahmad: 8782, Tirmidzi: 2029, Malik 1885, Ad Darimi: 1676, Ibn Majah: 4179.

6. Tersenyumlah ketika bertemu orang lain dengan bermuka manis dan lapang dada. (Tirmidzi: 1964, 3551, Abu Dawud: 1510, 4790, Ahmad: 1998 Ibn majah: 3820).

7. Berbicaralah sesuai dengan kemampuan akal mereka.

8. Berbaik sangka kepada orang lain dan tidak memata-matai mereka, jauhi sifat iri, dengki, hasud, maupun adu domba. Bukhri: 6058,6065,5052, Muslim: 2526, 815, 2559 Ahmad: 7296,4905,11663 Tirmidzi: 2025, 1935, 1936, Abu Dawud 4872, 4910, Malik: 1864, 1682, 1684, 1885.

9. Ma’afkan kekeliruan mereka dan tidak mencari-cari kesalahan-kesalahannya, serta menahan rasa benci ter-hadap mereka. (As Syura: 37,40, Ali Imran: 134) Tirmi-dzi: 2021, 2029, Ahmad: 15210, 7165, Malik: 1885, Abu Dawud: 4777, Ibn Majah: 4186, Ad Darimi: 1676.

10. Dengarlah pembicaraan pengaduan keluh kesah mere-ka dan hindari perdebatan serta berbantah-bantahan.

11. Janganlah menyebut-nyebut pemberian yang telah diberikan kepadanya (al-Baqarah: 262)

12. Jagalah selalu perdamaian meskipun dengan mere-kayasa (HR. Tirmidzi: 2509, 1938, Abu Dawud: 4920, 4962, Al-Bukhari: 2692, Muslim: 2692, Ahmad: 17824, 26727, 26962)

Adab di Masjid

1. Perhatikan kebersihan dan kesucian diri dan pakaian anda dan berdo’alah.Rasulullah n bila keluar rumah menuju masjid beliau berdo’a,

“Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, dan cahaya pada lisanku, dan jadikanlah cahaya pada pendengaranku dan cahaya pada penglihatanku, dan jadikanlah cahaya (di bagian) belakangku, dan cahaya (di bagian) depanku, dan jadikanlah cahaya (di bagian) atasku dan cahaya bawahku. Ya Allah, anugerahilah aku cahaya.” (Muttafaq ’alaih dan Ibn Abbas z)

2. Menujulah masjid dengan tenang dan khidmat.Rasulullah n telah bersabda, “Apabila shalat telah diiqamatkan, maka janganlah kamu datang menujunya dengan berlari, tetapi datanglah kepadanya dengan berjalan dan memperhatikan ketenangan. Maka ikutilah bagian shalat yang kamu dapati dan sempurnakanlah yang tertinggal.” (Muttafaq ’alaih).

3. Di saat masuk masjid, dahulukanlah kaki kanan, kemudian bershalawat kepada Nabi lalu ucapkanlah

“Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu.”Bila keluar dahulukan kaki kiri, lalu shalawatlah kepada Nabi n kemudian berdo`a

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon bagian dari karunia-Mu.” (HR. Muslim).

4. Lakukan shalat sunnah tahiyatul masjid.Rasulullah n bersabda, “Apabila seorang di antara kalian masuk masjid hendaklah ia shalat dua raka’at sebelum duduk.” (Muttafaq ‘alaih). Kemudian perbanyaklah dzikir, baca al-Qur’an, dsb.

5. Jangan berjual-beli dan mengumumkan barang hilang di dalam masjid.Rasulullah n bersabda, “Apabila kamu melihat orang yang menjual atau membeli sesuatu di dalam masjid, maka do’akanlah, “Semoga Allah tidak memberi keuntungan bagimu.” Dan apabila kamu melihat orang yang mengumumkan barang hilang, maka do’akanlah, “Semoga Allah tidak mengembalikan barangmu yang hilang.” (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

6. Pakailah harum-haruman. Jangan masuk masjid sehabis makan bawang putih, bawang merah atau orang yang badannya sedang berbau tidak sedap. Rasulullah n bersabda, “Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah atau bawang daun, maka jangan sekali-kali mendekat ke masjid kami ini, karena malaikat merasa terganggu dari apa yang mengganggu manusia.” (HR. Muslim).Dan termasuk juga rokok dan bau lain yang tidak sedap yang keluar dari badan atau pakaian.

7. Jangan keluar dari masjid sesudah adzan.Rasulullah n bersabda, “Apabila muadzin telah mengumandangkan adzan, maka jangan ada seorang pun yang keluar sebelum shalat.” (HR. Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

8. Jangan lewat di depan orang yang sedang shalat, dan orang yang shalat disunnahkan menaruh batas di depannya.Rasulullah bersabda, “Kalau sekiranya orang yang lewat di depan orang yang sedang shalat itu mengetahui dosa perbuatannya, niscaya ia berdiri selama empat puluh tahun itu lebih baik baginya daripada lewat di depannya.” (Muttafaq ‘alaih).

9. Jangan menjadikan masjid sebagai jalan.Rasulullah n bersabda, “Janganlah kamu menjadikan masjid sebagai jalan, kecuali (sebagai tempat) untuk berzikir dan shalat.” (HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh Al-Albani).

10. Jangan menyaringkan suara di dalam masjid dan jangan mengganggu orang-orang yang sedang shalat. Matikan handphone, jangan pula menyanyi.

11. Wanita jangan memakai parfum atau berhias bila pergi ke masjid.Rasulullah n bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu (kaum wanita) ingin shalat di masjid, maka janganlah menggunakan parfum.” (HR. Muslim).

12. Orang junub, wanita haid atau nifas tidak boleh masuk masjid.Allah berfirman, “Dan jangan pula menghampiri masjid, sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (An-Nisa:43)Bunda `Aisyah x meriwayatkan bahwa Rasulullah n telah bersabda kepadanya, “Ambilkan buat saya kain alas dari masjid.”Bunda Aisyah menjawab, “Sesungguhnya aku haid?”Nabi bersabda, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu.” (HR. Muslim).

13. Jagalah kebersihan, jangan meludah di masjid, bila terpaksa gunakan tisu atau sapu tangan dsb; ke sebelah kiri.

14. Bila anda dalam keadaan lapar, sedang makanan telah dihidangkan, maka dahulukanlah makan sebelum berangkat ke masjid.

15. Jangan menjalin jari-jari tangan kanan kiri saat menuju masjid sampai shalat usai,

16. Berusahalah mendapatkan shaff awal dan berada di sebelah kanan imam.

17. Anda diizinkan menyampaikan salam kepada yang sedang shalat, dan ia membalaskannya dengan isyarat.

18. Berusahalah untuk beribadah dan dzikir dengan khusyu’ tutuplah mulut atau hidung di saat menguap atau bersin dan berdo’alah. Begitu pula dengan batuk atau suara lainnya, usahakan agar tidak mengganggu imam atau sesama makmum.

Adab Membaca Al-Quran

1. Tuluskan niat untuk ibadah yang sangat mulia ini. Membaca Al-Qur’an sebaiknya dalam keadaan sudah berwudhu, suci pakaiannya, badannya dan tempatnya, serta telah menggosok gigi.

2. Pilihlah tempat yang tenang dan waktunya sesuai agar anda dapat memusatkan pikiran dan jiwa lebih tenang.

3. Mulailah tilawah dengan ta`awwudz, kemudian basmalah pada setiap awal surah selain surah At-Taubah. Allah berfirman,“Apabila kamu akan membaca Al-Qur’an, maka memohonlah perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.” (An-Nahl: 98).

4. Perhatikan hukum-hukum tajwid dan bunyikan huruf sesuai dengan makhrajnya serta membacanya dengan tartil (perlahan-lahan). Allah berfirman yang artinya, “Dan Bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.” (Al-Muzzammil: 4).

5. Panjangkan bacaan dan perindah suara. Anas bin Malik z pernah ditanya, bagaimana bacaan Nabi n (terhadap Al-Qur’an)? Anas menjawab, “Bacaannya panjang (mad), kemudian Nabi membaca, “Bismillahir-rahmanirrahim” sambil memanjangkan bismillahi, dan memanjangkan bacaan ar-rahmani dan memanjangkan bacaan ar-rahim.” (HR. Al-Bukhari). Dan Nabi n juga bersabda, “Hiasilah suara kalian dengan Al-Qur’an.” (HR. Abu Daud, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

6. Hendaknya membaca sambil merenungkan dan meng-hayati makna yang terkandung pada ayat-ayat yang dibaca, berinteraksi dengannya, sambil memohon Surga kepada Allah bila terbaca ayat-ayat Surga, dan berlindung kepada Allah dari Neraka bila membaca ayat-ayat Neraka.Allah berfirman,“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepada-mu penuh dengan berkah supaya mereka memperhati-kan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shaad: 29).Sahabat Hudzaifah z menuturkan, “Adalah Nabi n … Apabila terbaca ayat yang mengandung makna bertasbih (kepada Allah) beliau bertasbih, dan apabila terbaca ayat yang mengandung do’a, maka beliau berdo’a, dan apabila terbaca ayat yang bermakna meminta perlindungan (kepada Allah) beliau memohon perlindungan.” (HR. Muslim).“Dan apabila dibacakan ayat-Nya kepada mereka bertambahlah iman mereka.” (al-Anfal: 2)

7. Dengarkan bacaan Al-Qur’an simaklah dengan tenang. Allah berfirman yang artinya: “Dan apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (Al-A`raf: 204).

8. Jagalah Al-Qur’an dan tekun membacanya dan mempelajarinya (bertadarus) sehingga tidak lupa. Rasulullah n bersabda, “Hafalkanlah Al-Qur’an baik-baik, karena demi Tuhan yang diriku berada di tangan-Nya, hafalan Al-Qur’an benar-benar lebih liar (mudah lepas) dari pada unta yang terikat di tali kendalinya.” (HR. Al-Bukhari).

9. Jangan menyentuh Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci. Allah berfirman yang artinya, “Tidak akan menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”. (Al-Waqi`ah:79)

10. Wanita yang sedang haid atau nifas boleh membaca Al-Qur’an dengan tidak menyentuh mushafnya menurut salah satu pendapat ulama yang lebih kuat, karena tidak ada hadits shahih yang melarangnya.

11. Nyaringkan bacaan Al-Qur’an selagi tidak ada unsur riya’ atau yang negatif lainnya, atau dapat mengganggu orang yang sedang shalat, atau orang lain yang juga membaca Al-Qur’an. (Lihat HR. Abu Dawud no. 1332)

12. Berhentilah membaca bila sudah ngantuk.Rasulullah n bersabda, “Ápabila salah seorang kamu bangun di malam hari, lalu lisannya merasa sulit untuk membaca Al-Qur’an hingga tidak menyadari apa yang ia baca, maka hendaknya ia berbaring (tidur).” (HR. Muslim).

13. Jangan mengatakan saya lupa dengan ayat-ayat ini, akan tetapi katakan saya terlupakan ayat-ayat ini.

14. Diperbolehkan bagi orang yang berhadats kecil (bukan hadats besar) membaca al-Qur’an dengan hafalan. tanpa menyentuh mushaf. Sedangkan orang yang junub (hadats besar) tidak diperbolehkan membaca maupun menghafal mandi.

15. Mohon selalu taufik kepada Allah agar bisa mengamal-kan Al-Qur’an.

16. Letakkan al-Qur’an pada tempat yang layak dan terhormat, jangan dibawa masuk ke kamar kecil (WC) atau tempat yang tidak layak

17. Dilakukan dengan khusyu’ dengan pendalaman perasaan, memahami maknanya sampai menangis mengucurkan air mata.

18. Jangan menghentikan bacaan al-Qur’an kecuali pada akhir surat atau tempat berhentinya atau karenasesuatu alasan yang dibenarkan oleh syariat, bukan kerena urusan duniawi.

19. Hatamkan al-Qur’an di dalam satu bulan, atau dua puluh hari atau satu pekan atau maksimal tiga hari. Agar dapat mengambil i’tibar, kecuali pada bulan Ramadhan atau di masjidil haram atau bagi orang yang menjaga hafalannya, atau karena keperluan yang penting, beristiqomahlah setiap hari menyediakan waktu untuk membacanya.

20. Bacalah do’a setelah khatam membaca Al-Qur’an.

21. Jangan membaca shadaqallahul ‘adzim ketika usai membaca, karena tidak ada dasar syar’inya, begitu pula mencium dan mengusapnya.

22. Sujudlah ketika membaca ayat-ayat sajadah dan bacalah

“Wajahku sujud kepada zat yang menciptakannya, yang membuka pendengaran dan penglihatannya dengan kemampuan-Nya dan kekuatan-Nya”. (HR. Abu Daud no. 1414, Ahmad; 23502, An Nasa’i: 1129, At-Tirmidzi: 3425), Atau

(HR. Muslim: 771, Ahmad: 805, An Nasai: 1126, At Tirmidzi: 3421, Abu Daud: 760, Ibn Majah: 1054, atau do’a lain yang diajarkan Rasulullah .

23. Dianjurkan pula bersujud tilawah bagi yang berniat mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan sebenarnya. Sujud ini tidak disyaratkan berwudhu.

24. Jangan Menggantungkan atau menempelkan ayat-ayat al-Qur’an untuk hiasan atau mencari barokah dll, karena betentangan dengan tujuan diturunkannya Al-Qur’an itu sendiri. (Lihat QS; Shaad: 29, An-Nisa: 82) dan tidak ada contoh dari Rasulullah .

25. Jangan membaca al-Qur’an untuk mendapatkan upah duniawi (HR. Tirmidzi dari Imron . (Lihat Jam’ul Fawaid Hadits no: 6723)

26. Diizinkan membaca dan menghafal sambil berdiri, duduk, berbaring, naik kendaraan atau lainnya. (Lihat Qs. Az Zukhruf: 13 dan Ali Imran: 191)

27. Jangan membaca al-Qur’an dengan suara berjamaah atau berkumpul-kumpul dalam satu acara seperti kematian kecuali untuk pengajaran atau latihan bagi orang yang hidup karena tidak ada perintah atau contoh demikian dari Rasulullah.

Adab Berdoa

1. Harus diingat bahwa berdo'a adalah ibadah yang agung, sebelum berdo'a hendaknya memuji Allah kemudian bershalawat Nabi saw.

Rasulullah saw pernah mendengar seorang lelaki sedang berdo'a di dalam shalatnya, namun ia tidak memuji Allah SWT dan tidak bershalawat atas Nabi saw maka Nabi bersabda kepadanya, Kamu telah tergesa-gesa wahai orang yang sedang shalat. Apabila selesai shalat, lalu engkau duduk, maka memujilah kepada Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, dan bershalawatlah kepadaku, kemudian berdo'alah. (HR. At-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

2. Mengakui dosa-dosa, kekurangan dan merendahkan diri, khusyu', penuh harap dan rasa takut kepada Allah ketika berdo'a.

Allah SWT berfirman, Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera di dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo'a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu` kepada Kami. (Al-Anbiya': 90).

3. Berwudhu' sebelum berdo'a, menghadap Kiblat dan mengangkat kedua tangan di saat berdo'a.

Abu Musa Al-Asy`ari ra menyebutkan bahwa seusai perang Hunain, Nabi minta air lalu berwudhu, kemudian mengangkat kedua tangannya; dan aku melihat putihnya kulit ketiak beliau. (Muttafaq 'alaih).

4. Bersungguh-sungguhlah, mantapkan keyakinan dalam memohon.

Rasulullah saw bersabda, Apabila kamu berdo'a kepada Allah, maka bersungguh-sungguhlah, dan jangan sampai ada seorang di antara kalian yang mengatakan, Jika Engkau menghendaki, maka berilah aku, karena sesungguhnya Allah, tidak ada yang dapat memaksa-Nya (Allah). Dan di dalam satu riwayat disebutkan, Akan tetapi hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam memohon dan membesarkan harapan, karena sesungguhnya Allah tidak merasa berat terhadap sesuatu yang Dia berikan. (Muttafaq 'alaih).

5. Hindari do'a buruk terhadap diri sendiri, anak dan harta.

Rasulullah saw bersabda, Jangan sekali-kali kamu mendo'akan keburukan terhadap dirimu dan juga terhadap anak-anak maupun harta kamu sendiri, karena dikhawatirkan do'amu bertepatan dengan waktu Allah mengabulkan do'amu. (HR. Muslim).

6. Rendahkan suara di dalam berdo'a.

Rasulullah saw bersabda, Wahai sekalian manusia, kasihanilah dirimu, karena sesungguhnya kamu tidak berdo'a kepada yang tuli dan tidak pula yang ghaib, sesungguhnya kamu berdo'a (memohon) kepada Yang Maha dekat Mendengar lagi Maha Dekat dan Dia selalu menyertaimu. (HR. Al-Bukhari).

7. Pusatkan hati di dalam berdo'a.

Rasulullah saw bersabda, Berdo'alah kepada Allah dalam keadaan yakin dikabulkan, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah tidak mengabulkan do'a dari hati yang lalai. (HR. At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani).

8. Jangan bersajak di dalam berdo'a.

Ibnu Abbas berkata kepada Ikrimah, Perhatikan sajak dalam do'amu, lalu hindarilah itu, karena sesungguhnya aku memperhatikan Rasulullah saw dan para shahabat-nya tidak melakukan hal tersebut. (HR. Al-Bukhari).

9. Carilah dan makanlah dari rizki yang halal agar do'a dikabulkan.

10. Berperantaralah dengan amal sholeh (bertawasul) terutama dengan berbuat baik kepada kedua orang tua, bershodaqah, menunaikan kewajiban dengan sempurna dan rajin mengamalkan ibadah sunnah.

11. Pilihlah kalimat do'a yang baku seperti yang ada pada al-Qur'an dan hadits.

12. Ucapkan do'a itu berulang-ulang.

13. Pilihlah waktu-waktu yang mustajab seperti:

- Di akhir bacaan tasyahud dalam shalat

-Sepertiga akhir malam

-Di antara dua khutbah jum'at

-Di antara adzan dan iqamah

-Di saat waktu ashar hari jum'at sampai maghrib

-Di saat hujan turun lebat

-Di saat ada suara ayam jantan berkokok (HR. Al-Bukhari: 3303, Muslim: 8003)

-Pada hari arafah dan 1-10 Dzulhijjah

-Saat berbuka puasa

-Saat Safar

-Malam lailatul Qadar atau sepuluh akhir Ramadhan.

-Do'a orang tua kepada anaknya

-Do'a saat ketemu dua pasukan perang (Abu Daud: 2540)

14. Tempat-tempat mustajab

- Tanah Arafah di sore hari Arafah (9 Dzulhijjah) .. Di Shofa dan Marwah

-Setelah melempar jumrah ula dan Wustho

-Di masjidil haram, masjid Nabawi dan masjidil Aqsho

-Di masjid saat menuntut ilmu dan madarosah al-Qur'an yaitu saat ber-kumpulnya malaikat dan rahmat

-Di Tempat orang sakit ketika kita menjenguknya

Adab Makan dan Minum

1. Berusahalah dengan hati-hati untuk mencari makanan yang halal.

Allah berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (Al-Baqarah: 172).

Yang baik di sini artinya yang halal.

2. Makan dan minum diniatkan agar mampu beribadah kepada Allah, sehingga bernilai ibadah serta mendapat pahala.

3. Cuci tangan sebelum dan setelah makan, dan bersihkan mulut terutama jika hendak menuju sholat.

4. Hendaklah merasa puas dan rela dengan makanan dan minuman yang ada, dan jangan sekali-kali mencelanya. Abu Hurairah menuturkan, “Rasulullah sama sekali tidak pernah mencela makanan. Apabila beliau suka sesuatu ia makan dan jika tidak, maka beliau tinggalkan.” (Muttafaq ’alaih).

5. Jangan makan sambil bersandar atau dengan keadaan meniarap. Rasulullah bersabda; “Aku tidak makan sambil bersandar”. (HR. Al-Bukhari).

Ibnu Umar menuturkan: “Rasulullah n melarang dua tempat makan, iaitu duduk di meja tempat minum khamar dan makan sambil meniarap.” (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani).

6. Jangan menggunakan bejana emas dan perak. Nabi S.a.w bersabda, “….. dan janganlah kamu minum dengan menggunakan bejana yang terbuat dari emas dan perak, dan jangan pula kamu makan dengan piring yang terbuat darinya, kerana keduanya untuk mereka (orang kafir) di dunia ini dan untuk kita di akhirat kelak.” (Muttafaq ’alaih)

7. Mulailah makan dan minum dengan membaca bismillah dan diakhiri dengan alhamdulillah. Rasulullah n bersabda, “Apabila seorang di antara kalian makan, hendaklah menyebut nama Allah . dan jika lupa menyebut nama Allah . di awalnya maka hendaklah mengatakan: Bismillahi fi awwalihi wa akhirihi.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Dan mengakhiri dengan Hamdalah, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah sangat meredhai hamba yang apabila telah memakan suatu makanan ia memuji-Nya dan apabila meminum minuman ia pun memuji-Nya.” (HR. Muslim).

8. Makanlah dengan tangan kanan dan mulailah dari yang ada di depanmu.

Rasulullah bersabda kepada Umar bin Salamah, “Wahai anak muda, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu serta makanlah apa yang di dekatmu.” (Muttafaq ’alaih).

9. Makanlah dengan tiga jari dan menjilati jari-jari itu sesudah makan. Ayah Ka`ab bin Malik menuturkan, “Rasulullah makan dengan tiga jari dan beliau menjilatinya sebelum mengelapnya.” (HR. Muslim).

10. Ambillah makanan yang terjatuh dan buang bahagian yang kotor lalu memakannya. Rasulullah n bersabda, “Apabila suapan makan seorang dari kamu jatuh hendaklah ia memungut dan membuang bahagian yang kotor, lalu makanlah ia dan jangan membiarkannya untuk syetan.” (HR. Muslim).

11. Jangan meniup makan yang masih panas atau bernafas di saat minum. Ibnu Abbas menuturkan, “Bahawasanya Nabi melarang bernafas pada bejana minuman atau meniupnya.” (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

12. Makanlah secukupnya, jangan berlebih-lebihan. Rasulullah bersabda, “Tiada tempat yang lebih buruk yang dipenuhi oleh seseorang daripada perutnya. Cukuplah bagi seseorang beberapa suap saja untuk menegakkan tulang punggungnya; jikapun terpaksa, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk bernafas.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

13. Sebagai tuan rumah jangan melihat wajah tamu yang sedang makan, tundukkan pandangan, agar tidak mengganggu perasaan mereka.

14. Jangan memulai makan jamuan jika di dalam majlis ada orang yang lebih berhak memulai, seperti yang lebih tua atau mempunyai kedudukan.

15. Jangan melakukan hal-hal yang menjijikkan, seperti memasukkan tangan ke bejana, atau mendekatkan kepala ke tempat makanan di waktu makan, atau membicarakan perkara-perkara yang menjijikkan.

16. Jangan minum langsung dari bibir bejana (wadah air). Ibnu Abbas berkata, “Nabi melarang minum dari bibir bejana wadah air.” (HR. Al-Bukhari).

17. Minumlah sambil duduk, kecuali jika berhalangan. Sahabat Anas menuturkan, “Bahwa sesungguhnya Nabi melarang minum sambil berdiri.” (HR. Muslim). No. 2023, Ahmad 11775, At Tirmidzi No. 1879 Abu Daud: 3717 Ibnu Majah 3424, Ad Darimi: 2127.

18. Dahulukan makan sebelum shalat jika anda telah lapar. Rasulullah n bersabda:

“Tidak sempurna shalat dengan datangnya makanan dan tidak pula jika seseorang menahan dua hadats” (HR. Muslim:560, Ahmad:23646, Abu Daud; 89)

19. Dahulukan makan dari tepi piring jangan dari atas atau tengahnya (HR. Abu Daud; 3772, Ahmad; 2435; At Tirmidzi; 1805, Ibnu Majah; 3277, Ad Darimi; 2036, 2046 dari Ibnu Abbas) .

20. Jangan mengambil terlalu banyak bila makan bersama orang lain, kecuali jika atas izin kawan dalam jamuan itu. (HR. Al Bukhari; 2455, Muslim; 2045, Ahmad; 5027, At Tirmidzi; 1814, Abu Daud; 3834, Ibnu Majah; 3331, dari Syu’bah dari Jablah.)

21. Tunggulah makanan yang masih panas, jangan dimakan sampai hilang wap panasnya kerana itulah yang lebih besar barokahnya. (HR. Ad Darimi; 2047, Ahmad; 26418, dari Asma bin Abu bakar.)

22. Disunnahkan bagi tuan Rumah atau yang memberi minum untuk minum terakhir setelah giliran para tamu. (HR. Muslim; 681, Ahmad; 22041, At Tirmidzi; 1894, Ibnu Majah; 3436, Ad Darimi; 2135 dari Qatadah.)

23. Diizinkan makan sambil berbicara yang baik, mensyukuri dll. (lihat riwayat Imam Ahmad “Adab Syariah 3:163)

24. Disunnahkan makan sambil berkumpul (HR. Muslim No. 2059, Ahmad; 13810, At Tirmidzi; 1820, Ibnu Ma-jah; 3254, Ad Darimi; 2044, dari Jabir bin Abdullah.

Adab Menerima Tamu

1. Undanglah orang-orang yang bertaqwa, jangan mengundang orang-orang fasiq.

Rasulullah bersabda, “Janganlah kamu bersahabat kecuali dengan seorang mukmin, dan jangan memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa.” (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

2. Undanglah orang-orang fakir, jangan hanya mengundang orang-orang kaya untuk jamuan.

Rasulullah bersabda, “Seburuk-buruk makanan adalah makanan pesta pengantin (walimah), karena yang diundang hanya orang-orang kaya, tanpa orang-orang faqir.” (Muttafaq ’alaih)

3. Niatkan untuk mengikuti sunnah dan membahagiakan teman-teman dalam mengundang jamuan jangan diniatkan untuk berbangga-bangga dan berfoya-foya.

Dan Janganlah memaksakan diri untuk mengundang tamu. Anas z menuturkan: “Pada saat kami berada di sisi Umar, ia berkata, “Kami dilarang memaksakan diri (membuat diri sendiri repot).” (HR. Al-Bukhari).

4. Jangan anda membebani tamu untuk membantu, karena hal ini bertentangan dengan kewibawaan dan jangan menampakkan kejemuan terhadap tamu, tetapi menampakkan kegembiraan dengan kehadiran mereka, bermuka manis dan berbicara ramah dan ceria.

5. Segera hidangkan makanan, karena yang demikian itu berarti menghormatinya dan dahulukanlah yang tua dari yang muda dan yang kanan dari yang kiri.

6. Jangan tergesa-gesa mengangkat hidangan sebelum tamu selesai menikmati jamuan anda.

7. Antarkanlah tamu hingga di luar pintu rumah.

Adab Bertamu

1. Undanglah orang-orang yang bertaqwa, jangan mengundang orang-orang fasiq.

Rasulullah bersabda, “Janganlah kamu bersahabat kecuali dengan seorang mukmin, dan jangan memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa.” (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

2. Undanglah orang-orang fakir, jangan hanya mengundang orang-orang kaya untuk jamuan.

Rasulullah bersabda, “Seburuk-buruk makanan adalah makanan pesta pengantin (walimah), karena yang diundang hanya orang-orang kaya, tanpa orang-orang faqir.” (Muttafaq ’alaih)

3. Niatkan untuk mengikuti sunnah dan membahagiakan teman-teman dalam mengundang jamuan jangan diniatkan untuk berbangga-bangga dan berfoya-foya.

Dan Janganlah memaksakan diri untuk mengundang tamu. Anas z menuturkan: “Pada saat kami berada di sisi Umar, ia berkata, “Kami dilarang memaksakan diri (membuat diri sendiri repot).” (HR. Al-Bukhari).

4. Jangan anda membebani tamu untuk membantu, karena hal ini bertentangan dengan kewibawaan dan jangan menampakkan kejemuan terhadap tamu, tetapi menampakkan kegembiraan dengan kehadiran mereka, bermuka manis dan berbicara ramah dan ceria.

5. Segera hidangkan makanan, karena yang demikian itu berarti menghormatinya dan dahulukanlah yang tua dari yang muda dan yang kanan dari yang kiri.

6. Jangan tergesa-gesa mengangkat hidangan sebelum tamu selesai menikmati jamuan anda.

7. Antarkanlah tamu hingga di luar pintu rumah.

8. Kembalilah dengan ridho dan maafkan kekurangan yang ada pada tuan rumah.

9. Do’akan tuan rumah seusai menyantap hidangannya. Dengan do’a:

“Orang yang berpuasa telah berbuka puasa padamu. orang-orang yang baik telah memakan makananmu dan para malaikat telah bershalawat untukmu.” (HR. Abu Daud, dishahihkan Al-Albani).

“Ya Allah, ampunilah mereka, belas kasihilah mereka, berkahilah bagi mereka apa yang telah Engkau karunia-kan kepada mereka. Ya Allah, berilah makan orang yang telah memberi kami makan, dan berilah minum orang yang memberi kami minum.”



http://caraislam.weebly.com/ ISLAM ITU INDAH

Panduan Hukum Islam (Tentang Adab)

ADAB ISLAMI (1)

Adab Tidur dan Bangun

1. Muhasabah; Hendaklah menghitung-hitung sesaat sebelum tidur, mengoreksi segala perbuatan yang telah ia lakukan di siang hari. Ini sangat dianjurkan bagi setiap muslim. Lalu jika ia dapatkan perbuatannya itu baik, maka hendaknya memuji Allah Subhanahu wa ta’ala, jangan memuji diri sendiri, dan jika sebaliknya, maka hendaknya segera memohon ampunan-Nya, kembali dan bertobat kepada-Nya.

2. Tidurlah seawal mungkin, jangan larut malam, berdasarkan hadits yang bersumber dari `Aisyah radhiallahu ‘anha “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur pada awal malam dan bangun pada penghujung malam, lalu beliau melakukan shalat.” (Muttafaq `alaih)

3. Berwudhulah sebelum tidur dan berbaring miring ke sebelah kanan. Sahabat Rosulullah, Al-Bara’ bin `Azibz menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kamu akan tidur, maka berwudhu’lah sebagaimana wudhu’ untuk shalat, kemudian berbaringlah dengan miring ke sebelah kanan...” Dan tidak mengapa berbalik ke sebelah kiri nantinya.

4. Kibaskan sprei tiga kali sebelum berbaring, berdasarkan hadits Abu Hurairahz bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang dari kalian akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengirapkan kain tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya...” Di dalam satu riwayat dikatakan, “Tiga kali.” (Muttafaq `alaih)

5. Berbaringlah dengan miring kanan. Jangan tidur tengkurap. Abu Dzarz menuturkan, “Nabi n pernah lewat di dekatku, di saat itu aku sedang tengkurap, maka Nabi membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda, ”Wahai Junaidab (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (teng-kurap) adalah cara berbaringnya penghuni neraka.” (HR. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani)

6. Jangan tidur di atas dak terbuka, karena di dalam hadits yang bersumber dari `Ali bin Syaiban disebutkan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya.” (HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

7. Tutuplah pintu, jendela, dan memadamkan api dan lampu sebelum tidur. Dari Jabir radhiallahu ‘anha diriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Padamkanlah lampu di malam hari apabila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman.” (Muttafaq ’alaih)

8. Baca ayat Kursi, dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah, Surah Al-Ikhlas dan Al-Mu`awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas), karena banyak hadits-hadits shahih yang menganjurkan hal tersebut.

9. Baca do’a-do’a dan dzikir yang keterangannya shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti :

“Ya Allah, peliharalah aku dari adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali segenap hamba-Mu.” Dibaca tiga kali. (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al-Albani)

Dan ucapkan,

“Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.” (HR. Al-Bukhari)

10. Apabila di saat tidur merasa kaget atau gelisah atau merasa ketakutan, maka disunnatkan (dianjurkan) berdo’a dengan do’a berikut ini :

“Aku berlindung dengan Kalimatullah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya, dari gangguan syetan dan kehadiran mereka kepadaku.” (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al-Albani)

11. Bila bermimpi baik, maka bergembiralah dan ceritakan hanya kepada orang yang senang kepadamu. Bila mimpi buruk, maka meludahlah ke kiri tiga kali, baca ta’awudz jangan diceritakan kepada orang lain, dan pindahlah posisi tidur, atau bangunlah dan shalatlah.

12. Ketika bangun tidur hendaknya ucapkan,

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami
setelah kami dimatikan-Nya, dan kepada-Nya lah kami dikembalikan.” (HR. Al-Bukhari).

Atau dengan ayat penutup Ali Imran, kemudian shalat (HR. Al-Bukhari 103, Muslim 763, Ahmad 2165, An-Nasai 1620, Abu Dawud 58)

Adab Membuang Hajat

1. Jangan menunda-nunda, segeralah membuang hajat. Apabila seseorang merasa akan buang air, maka hendaknya bersegera melakukannya, karena hal tersebut berguna bagi agamanya dan bagi kesehatan jasmaninya.

2. Menjauhlah dari pandangan manusia di saat buang air (hajat). Berdasarkan hadits yang bersumber dari Al-Mughirah bin Syu`bah radhiallahu ‘anhu disebutkan, “Bahwasanya NabiShollallahu ‘alahi wa sallamapabila pergi untuk buang air (hajat), maka beliau menjauh.” (Diriwayatkan oleh empat Imam dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

3. Hindarilah tiga tempat terlarang, yaitu aliran air, jalan-jalan manusia dan tempat berteduh mereka. Sebab ada hadits dari Mu`adradhiallahu ‘anhu bin Jabalradhiallahu ‘anhu yang menyatakan demikian.

4. Jangan mengangkat pakaian sehingga sudah dekat ke tanah, yang demikian itu supaya aurat tidak kelihatan. Di dalam hadits yang bersumber dari Anasradhiallahu ‘anhu, ia menuturkan, “Biasanya apabila Nabi Shollallahu ‘alahi wasallam hendak membuang hajatnya tidak mengangkat (meninggikan) kainnya sehingga sudah dekat ke tanah.” (HR. Abu Daud dan At-Turmudradhiallahu ‘anhui, dinilai shahih oleh Al-Albani).

5. Jangan membawa sesuatu yang berisi ungkapan Allah Subhanahu wa ta’ala kecuali karena terpaksa. Karena tempat buang air (WC dan yang semacamnya) merupakan tempat kotoran dan hal-hal yang najis, tempat syetan berkumpul. Hal ini demi memelihara nama Allah Subhanahu wa ta’ala dari penghinaan dan tindakan meremehkannya.

6. Jangan menghadap atau membelakangi kiblat, berdasarkan hadits yang bersumber dari Abu Ayyub Al-Anshariradhiallahu ‘anhu, ia menyebutkan bahwasanya Nabi  Shollallahu ‘alahi wasallam telah bersabda, “Apabila kamu sampai di tempat buang air, maka janganlah kamu menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya, apakah itu untuk buang air kecil ataupun air besar.” (Muttafaq’alaih).

Ketentuan di atas berlaku apabila di ruang terbuka saja. Adapun jika di dalam ruang (WC) atau adanya penutup/ penghalang yang membatasi antara si pembuang hajat dengan kiblat, maka boleh menghadap ke arah kiblat namun membelakangi kiblat lebih baik daripada menghadapnya.

7. Jangan kencing di air yang tergenang (tidak mengalir), berdasarkan hadits yang bersumber dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shollallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Jangan sekali-kali seseorang di antara kalian buang air kecil di air yang menggenang yang tidak mengalir kemudian ia mandi di situ.” (Muttafaq ’alaih)

8. Jangan mencuci kotoran dengan tangan kanan, karena hadits yang bersumber dari Abu Qatadahradhiallahu ‘anhu menyebutkan bahwasanya Nabi Shollallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Jangan sekali-kali seseorang di antara kalian memegang dradhiallahu ‘anhuakar (kemaluan)nya dengan tangan kanannya di saat kencing dan jangan pula bersuci dari buang air dengan tangan kanannya.” (Muttafaq ’alaih)

9. Kencinglah sambil duduk (jongkok), tetapi boleh juga sambil berdiri. Pada dasarnya buang air kecil itu di lakukan sambil duduk, berdasarkan hadits `Aisyah d yang berkata, “Siapa yang telah memberitakan kepada kamu bahwa Rasulullah Shollallahu ‘alahi wasallam kencing sambil berdiri, maka jangan kamu percaya, sebab Rasulullah Shollallahu ‘alahi wasallam tidak pernah kencing kecuali sambil duduk.” (HR. An-Nasa`i dan dinilai shahih oleh Al-Albani). Sekalipun demikian seseorang dibolehkan kencing sambil berdiri dengan syarat badan dan pakaiannya aman dari percikan air kencingnya dan aman dari pandangan orang lain kepadanya. Hal itu karena ada hadits yang bersumber dari Hudradhiallahu ‘anhuaifahradhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah bersama Nabi Shollallahu ‘alahi wasallam (di suatu perjalanan) dan ketika sampai di tempat pembuangan sampah suatu kaum, beliau buang air kecil sambil berdiri, maka akupun menjauh darinya. Beliaupun bersabda, “Mendekatlah ke mari.” Maka aku mendekati beliau hingga aku berdiri di sisi kedua mata kakinya. Lalu beliau berwudhu dan mengusap kedua terompahnya.” (Muttafaq ‘alaih).

10. Jangan berbicara ketika buang hajat kecuali darurat, berdasarkan hadits yang bersumber dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, “Bahwa sesungguhnya ada seorang lelaki lewat, sedangkan Rasulullah Shollallahu ‘alahi wasallam sedang buang air kecil. Lalu orang itu memberi salam (kepada Nabi), namun beliau tidak menjawabnya.” (HR. Muslim).

11. Jangan bersuci (istijmar) dengan menggunakan tulang atau kotoran hewan, dan disunnatkan bersuci dengan jumlah ganjil. Di dalam hadits yang bersumber dari Salman Al-Farisi radhiallahu ‘anhu disebutkan bahwasanya ia berkata, “Kami dilarang oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam beristinja’ (bersuci) dengan menggunakan kurang dari tiga biji batu, atau beristinja’ dengan menggunakan kotoran hewan atau tulang.” (HR. Muslim).

12. NabiShollallahu ‘alahi wa sallam juga bersabda,
“Barangsiapa yang bersuci menggunakan batu (istijmar), maka hendaklah diganjilkan.”

13. Masuklah ke WC dengan mendahulukan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan berbarengan dengan dradhiallahu ‘anhuikirnya masing-masing. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia berkata, “Adalah Rasulullah Shollallahu ‘alahi wasallam apabila masuk ke WC mengucapkan :

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu daripada syetan jantan dan syetan betina.”

Dan apabila keluar mendahulukan kaki kanan sambil mengucapkan :

(ampunan-Mu ya Allah).

14. Cuci kedua tangan sesudah menunaikan hajat.

Diriwayatkan bahwasanya “Nabi Shollallahu ‘alahi wa sallam menunaikan hajatnya (buang air) kemudian bersuci dari air yang ada di dalam bejana kecil, lalu menggosokkan tangannya ke tanah.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu)

Adab Berpakaian dan Perhiasan

1. Pakailah pakaiaan yang suci, jangan memakai pakaian yang najis. (Al-Mudatsir: 4)

Disunnatkan memakai pakaian baru, bagus dan bersih.

Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda kepada salah seorang shahabatnya ketika beliau melihatnya mengenakan pakaian jelek, “Apabila Allah mengaruniakan kepadamu harta, maka tampakkanlah bekas nikmat dan kemurahan-Nya itu pada dirimu.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

2. Pakaian harus menutup aurat, yaitu longgar tidak membentuk lekuk tubuh dan tebal tidak memperlihat-kan apa yang ada di baliknya.

3. Pakaian laki-laki tidak boleh menyerupai pakaian perempuan atau sebaliknya, berdasarkan hadits yang bersumber dari Ibnu Abbasz, ia menuturkan: “Rasulullah melaknat (mengutuk) kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.” (HR. Al-Bukhari).

Tasyabbuh atau penyerupaan itu bisa dalam bentuk pakaian ataupun lainnya.

4. Pakaian tidak merupakan pakaian show (untuk ketenaran), karena Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Barangsiapa yang mengenakan pakaian ketenaran di dunia niscaya Allah akan mengenakan padanya pakaian kehinaan di hari Kiamat.” (HR. Ahmad, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

5. Jangan gunakan pakaian bergambar makhluk yang bernyawa atau gambar salib, karena hadits yang bersumber dari Aisyah d menyatakan bahwasanya ia berkata, “Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membiarkan pakaian yang ada gambar salibnya kecuali beliau menghapusnya.” (HR. Al-Bukhari dan Ahmad).

6. Laki-laki tidak boleh memakai emas dan kain sutera kecuali dalam keadaan terpaksa, karena hadits yang bersumber dari AliShollallahu ‘alaihi wa sallammengatakan “bahwa Nabi Allah Shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah membawa kain sutera di tangan kanannya dan emas di tangan kirinya, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya dua jenis benda ini haram bagi kaum lelaki dari umatku.” (HR. Abu Daud dan dinilai shahih oleh Al-Albani)

7. Pakaian laki-laki tidak boleh panjang melebihi kedua mata kaki, karena Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Apa yang berada di bawah kedua mata kaki dari kain itu di dalam Neraka.” (HR. Al-Bukhari)

Namun pakaian perempuan, harus menutup seluruh badannya, termasuk kedua kakinya atau lebih.

Adalah haram hukumnya orang yang menyeret (meng-gusur) pakaiannya karena sombong dan bangga diri. Sebab ada hadits yang menyatakan, “Allah tidak akan memperhatikan di hari Kiamat kelak kepada orang yang menyeret kainnya karena sombong.” (Muttafaq ’alaih)

8. Disunnatkan mendahulukan bagian yang kanan ketika berpakaian atau lainnya. Aisyah Radhiallahu ‘anha di dalam haditsnya berkata, “Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam suka bertayammun (memulai dengan yang kanan) di dalam segala perihalnya, ketika memakai sandal, menyisir rambut dan bersuci.” (Muttafaq ’alaih)

Jika mengenakan pakaian baru bacalah,

“Segala puji bagi Allah yang telah menutupi aku dengan pakaian ini dan mengaruniakannya kepadaku tanpa daya dan kekuatan dariku.” (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

9. Pakailah pakaian berwarna putih (ini yang terbaik), ka-rena sebuah hadits mengatakan, “Pakailah pakaianmu yang berwarna putih, karena yang putih itu adalah yang terbaik dari pakaian kamu...” (HR. Ahmad dan dinilai shahih oleh Al-Albani)

10. Gunakan parfum, kecuali bila dalam keadaan berihram untuk haji ataupun umrah, atau jika perempuan itu sedang berihdad (berkabung) atas kematian suaminya, atau jika ia berada di suatu tempat yang ada laki-laki asing (bukan mahramnya), karena larangannya shahih.

11. Haram hukumnya memasang tato, menipiskan bulu alis, memotong gigi supaya cantik dan menyambung rambut (bersanggul). Karena Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam di dalam haditsnya mengatakan, “Allah melaknat (mengutuk) wanita pema-sang tato dan yang minta ditato, wanita yang menipiskan bulu alisnya dan yang meminta ditipiskan dan wanita yang meruncingkan giginya supaya kelihatan cantik, (mereka) mengubah ciptaan Allah.” Dan di dalam riwayat Imam Al-Bukhari disebutkan, “Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya.” (Muttafaq ’alaih).

12. Pakailah sandal atau sepatu sepasang, jangan sebelah.

Adab di Jalanan

1. Berjalanlah dengan tenang, tidak cepat maupun lambat. Berjalanlah dengan sikap wajar dan tawadhu, tidak berlagak sombong di saat berjalan atau mengangkat kepala karena sombong atau memalingkan wajah dari orang lain karena takabbur. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya,

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman: 18)

2. Pelihara pandangan mata, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

“Katakanlah kepada laki-laki beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangan-nya, dan memelihara kemaluannya....” (An-Nur: 30-31)

3. Jangan mengganggu, membuang kotoran atau sisa makanan di jalan-jalan manusia, dan buang air besar atau kecil di situ atau di tempat yang dijadikan tempat mereka berteduh.

4. Singkirkan gangguan dari jalan. Ini merupakan sedekah yang menyebabkan anda bisa masuk surga. Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shollallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Ketika ada seseorang sedang berjalan di suatu jalan, ia menemukan dahan berduri di jalan tersebut, lalu orang itu menyingkirkannya. Maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya...” Di dalam suatu riwayat disebutkan, “Maka Allah memasukkannya ke Surga.” (Muttafaq ’alaih)

5. Jawablah salam orang yang dikenal ataupun yang tidak dikenal. Ini hukumnya wajib, karena Rasulullah Shollallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Ada lima perkara wajib bagi seorang muslim terhadap saudaranya…” dan di antaranya, “Menjawab salam.” (Muttafaq ‘alaih).

6. Ber’amar ma`ruf dan nahi munkar. Ini juga wajib dilakukan oleh setiap muslim, masing-masing sesuai kemampuannya.

7. Tunjukkan orang yang tersesat (salah jalan), berikan bantuan kepada orang yang membutuhkan dan tegurlah orang yang berbuat keliru serta membela orang yang teraniaya. Di dalam hadits disebutkan “Setiap persendian manusia mempunyai kewajiban sedekah...” dan disebutkan di antaranya, “Berbuat adil di antara manusia adalah sedekah, menolong dan membawanya di atas kendaraannya adalah sedekah atau mengangkatkan barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah dan menunjukkan jalan adalah sedekah....” (Muttafaq ‘alaih).

8. Wanita hendaklah berjalan di pinggir jalan. Pada suatu ketika Nabi Shollallahu ‘alahi wa sallam pernah melihat campur baurnya laki-laki dengan wanita di jalanan, maka ia bersabda kepada wanita: “Menepilah kalian, kalian tidak layak memenuhi jalan, hendaklah kalian menelusuri tepi jalan.” (HR. Abu Dawud, dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

Jangan ngebut bila mengendarai mobil khususnya di jalan-jalan yang ramai dengan pejalan kaki, melapangkan jalan untuk orang lain dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk lewat. Semua itu termasuk tolong-menolong di dalam kebajikan. Aturlah posisi dan jarak, jangan membikin macet jalanan, taati rambu-rambu lalu lintas.

9. Parkirlah kendaraan pada tempatnya dan kuncilah, jika meninggalkannya.

Adab Memberi Salam

1. Ucapan salam adalah, “Assalamu ‘alaikum …”. Makruh memberi salam dengan ucapan, “Alaikumus salam” karena di dalam hadits Jabirradhiallahu ‘anhu diriwayatkan bahwasanya ia menuturkan, “Aku pernah menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku berkata, “Alaikas salam ya Rasulallah.” Nabi menjawab, “Jangan kamu mengatakan, “Alaikas salam”. Di dalam riwayat Abu Daud disebutkan, “Karena sesungguhnya ucapan “alaikas salam” itu adalah salam untuk orang-orang yang telah mati.” (HR. Abu Daud dan At-Turmudzi, dishahihkan oleh Al-Albani).

2. Mengucapkan salam tiga kali jika khalayak banyak jumlahnya. Di dalam hadits Anas radhiallahu ‘anhu disebutkan bahwa “Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam apabila ia mengucapkan suatu kalimat, ia mengulanginya tiga kali. Dan apabila ia datang kepada suatu kaum, ia memberi salam kepada mereka tiga kali.” (HR. Al-Bukhari No.95).

3. Termasuk sunnah adalah orang yang mengendarai kendaraan mengucapkan salam kepada orang yang berjalan kaki, dan orang yang berjalan kaki mengucap-kan salam kepada orang yang duduk, orang yang jumlahnya sedikit kepada yang banyak, dan orang yang lebih muda kepada yang lebih tua. Demikianlah disebutkan di dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang muttafaq‘alaih.

4. Keraskan suara ketika mengucapkan salam dan demikian pula menjawabnya, kecuali jika di sekitarnya ada orang-orang yang sedang tidur. Di dalam hadits Miqdad bin Al-Aswad disebutkan di antaranya, “Dan kami pun memerah susu (binatang ternak) hingga setiap orang dapat bagian minum, dan kami sediakan bagian untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Miqdad radhiallahu ‘anhu berkata,” Maka Nabi pun datang di malam hari dan mengucapkan salam yang tidak membangunkan orang yang sedang tidur, namun dapat didengar oleh orang yang terjaga.” (HR. Muslim)

5. Ucapkan salam ketika masuk ke suatu majlis dan ketika akan meninggalkannya, karena hadits menyebutkan, “Apabila salah seorang kamu sampai di suatu majlis hendaklah mengucapkan salam. Dan apabila hendak keluar hendaklah mengucapkan salam, dan tidaklah salam yang pertama lebih utama daripada yang ke dua.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani)

6. Berikan salam ketika masuk ke suatu rumah, sekalipun rumah itu kosong, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman yang artinya,

“Dan apabila kamu akan masuk ke suatu rumah, maka ucapkanlah salam atas diri kalian.” (An-Nur: 61).

Dan berdasarkan ucapan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, “Apabila seseorang akan masuk ke suatu rumah yang tidak berpenghuni, maka hendaklah ia mengucapkan,

“Keselamatan bagi kalian dan kami dan bagi hamba Alloh yang sholih.” (HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan dishahih-kan oleh Al-Albani).

7. Jangan memberi salam kepada orang yang sedang di WC (buang hajat), berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu yang menyebutkan, “Bahwasanya ada seseorang yang lewat sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang buang air kecil, orang itu memberi salam, namun beliau tidak menjawabnya.” (HR. Muslim).

8. Berikan salam kepada anak-anak, berdasarkan hadits yang bersumber dari Anas radhiallahu ‘anhu menyebutkan, bahwasanya ketika ia lewat di sekitar anak-anak ia mengucapkan salam, dan ia mengatakan, “Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam .” (Muttafaq ’alaih)

9. Ucapan salam kepada kelompok orang, dapat dijawab oleh seorang atau sebagiannya (HR. Abu Daud no. 5210) Jangan mengucapkan salam kepada Ahli Kitab, sebab Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian terlebih dahulu memberi salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani.....” (HR. Muslim). Dan apabila mereka yang memberi salam, maka kita jawab dengan mengucapkan وعليكم “Wa’alaikum” saja, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila Ahli Kitab memberi salam kepada kamu, maka jawablah, “Wa’alaikum.” (Muttafaq ’alaih)

10. Berikanlah salam kepada orang yang kamu kenal ataupun yang tidak kamu kenal. Di dalam hadits Abdullah bin Umar radhiallahu 'anhu disebutkan bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Islam yang manakah yang paling baik?” Jawab Nabi, “Engkau memberikan makanan dan memberi salam kepada orang yang telah kamu kenal dan yang belum kamu kenal.” (Muttafaq ’alaih).

11. Jawablah salam orang yang menyampaikan salam lewat orang lain dan kepada yang dititipinya. Pada suatu ketika seorang lelaki datang kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallamlalu berkata, “Sesungguhnya ayahku menyampaikan salam untukmu.” Maka Nabishallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab, “`Alaika wa `ala abikas salam.”

12. Jangan memberi salam dengan isyarat kecuali karena uzur, seperti karena sedang shalat atau bisu atau karena orang yang akan diberi salam itu jauh jaraknya. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memberi salam seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena sesungguhnya cara penyampaian mereka memakai isyarat dengan tangan.” (HR. Al-Baihaqi dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

13. Disunnahkan atas setiap orang untuk berjabatan tangan dengan saudaranya. Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Tiada dua orang muslim yang saling berjumpa lalu berjabat tangan, melainkan diampuni dosa keduanya sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

14. Dianjurkan untuk tidak melepas tangan terlebih dahulu di saat berjabatan tangan sebelum orang yang diajak berjabat tangan itu melepasnya.

Sahabat Anas radhiallahu ‘anhu menyebutkan, “Apabila diterima oleh seseorang untuk berjabat tangan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melepas tangannya sebelum orang itu yang melepasnya...” (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani)

15. Haram hukumnya membungkukkan tubuh atau sujud ketika memberi penghormatan, karena hadits yang bersumber dari Anas radhiallahu ‘anhu menyebutkan, “Ada seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, kalau salah seorang di antara kami berjumpa dengan temannya, apakah ia harus membungkukkan tubuhnya kepadanya?”

Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak”.

Orang itu bertanya, “Apakah ia merangkul dan menciumnya?”

Jawab Nabi, “Tidak.”

Orang itu bertanya, “Apakah ia berjabat tangan dengannya?”

Jawab Nabi, “Ya, jika ia mau.” (HR. At-Tirmidzi dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

16. Haram berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahramnya. Ketika diajak jabat tangan oleh kaum wanita di saat baiat, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku tidak berjabatan tangan dengan kaum wanita.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasai, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

17. Diizinkan berdiri menyambut kedatangan orang yang dicintai, seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh bani Quraidhah di sisi beliau agar berdiri menyambut pemimpin kaumnya, Sa’ad bin Muadz radhiallahu ‘anhu (HR. Al-Bukhari no. 6262, Muslim no. 1768, Ahmad no. 25610. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berdiri menyambut putri beliau Fathimah x dan begitu pula sebaliknya (HR. Abu Daud no. 5217, At-Tirmidzi no. 3872)

Adab Meminta Izin

1. Tiga waktu yang kurang tepat untuk minta izin: Sebelum shalat Shubuh, saat Dzuhur, dan setelah Isya’ (Annur: 58). Maka orang yang akan meminta izin hendaklah memilih waktu yang tepat untuk minta izin.

2. Sambil mengucapkan salam, hendaknya orang yang akan minta izin mengetuk pintu rumah orang yang akan dikunjunginya secara pelan. Anas radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwasanya ia telah berkata, “Sesungguhnya pintu-pintu kediaman Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam diketuk (oleh para tamunya) dengan ujung kuku.” (HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

3. Hendaknya orang yang mengetuk pintu tidak menghadap ke pintu yang diketuk, tetapi sebaiknya menolehkan pandangannya ke kanan atau ke kiri agar pandangan tidak tertuju kepada sesuatu di dalam rumah tersebut yang mana penghuninya tidak ingin ada orang lain melihatnya, karena dianjurkannya minta izin itu sebenarnya dianjurkan untuk menjaga pandangan.

4. Sebelum minta izin hendaknya memberi salam terlebih dahulu.

Rib`iy berkata, “Seorang lelaki dari Bani `Amir telah bercerita kepada saya seorang, bahwasanya ia pernah minta izin kepada Nabi n di saat beliau ada di suatu rumah.

Orang itu berkata, “Bolehkah saya masuk?”

Maka Nabi n berkata kepada pembantunya, “Jumpai-lah orang itu dan ajari dia cara minta izin, dan katakan kepadanya, Ucapkan Assalamu`alaikum, bolehkah saya masuk?”. (HR. Ahmad dan Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani)

5. Minta izin itu sampai tiga kali, jika sesudah tiga kali tidak ada jawaban, maka hendaknya pulang.

Rasulullah radhiallahu ‘anhu bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu minta izin sampai tiga kali, lalu tidak mendapat izin, maka hendaklah ia pulang.” (Muttafaq ’alaih)

6. Apabila orang yang minta izin itu ditanya tentang namanya, maka hendaklah ia menyebutkan nama dan panggilannya, dan jangan mengatakan, “Saya”.

Jabir radgiallahu ‘anhu menuturkan, “Aku pernah datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam untuk menanyakan hutang yang ada pada ayah saya. Maka aku ketuk pintu (rumah Nabi).

Lalu Nabi berkata, “Siapa itu?”

Maka aku jawab, “Saya.”

Maka Nabi berkata, “Saya! Saya!” dengan nada tidak suka.” (Muttafaq ’alaih)

Hendaklah peminta izin pulang apabila permintaan izinnya ditolak, karena Allah telah berfirman yang artinya:

“Dan jika dikatakan kepada kamu “pulang”, maka pulanglah kamu, karena yang demikian itu lebih suci bagi kamu.” (An-Nur: 28).

7. Hendaknya peminta izin tidak memasuki rumah apabila tidak ada orangnya, karena hal tersebut merupakan pelanggaran atas hak orang lain.

8. Menggunakan waktu sebaik-baiknya, mencukupkan dengan pembicaraan dan kepentingan seperlunya

9. Selalu menjaga sopan santun di rumah orang lain.

Adab Majelis

1. Berilah izin salam atau mintalah izin kepada orang-orang yang di dalam majlis ketika masuk dan keluar dari majlis tersebut.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian sampai di suatu majlis, maka hendaklah memberi salam, lalu jika dilihat layak baginya duduk, maka hendaklah ia duduk. Kemudian jika bangkit (akan keluar) dari majlis hendaklah memberi salam pula. Bukanlah salam yang pertama lebih utama daripada yang kedua.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, dinilai shahih oleh Al-Albani).

2. Duduklah di tempat yang masih tersisa.

Jabir bin Samurah radhiallahu ‘anhu menuturkan, “Apabila kami datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, maka masing-masing dari kami duduk di tempat yang masih tersedia di majlis.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

3. Jangan menyuruh orang lain untuk pindah dari tempat duduknya kemudian anda mendudukinya, akan tetapi berlapang-lapanglah di dalam majlis.

Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang tidak boleh memerintah-kan orang lain pindah dari tempat duduknya lalu ia menggantikannya, akan tetapi berlapanglah dan perluaslah.” (Muttafaq ’alaih).

4. Jangan duduk di tengah-tengah (lingkaran majlis) halaqah.

5. Jangan duduk di antara dua orang yang sedang duduk kecuali seizin mereka.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal bagi seseorang memisah di antara dua orang kecuali seizin keduanya.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

6. Jangan menempati tempat duduk orang lain yang keluar sementara waktu untuk suatu keperluan.

Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang di antara kamu bangkit (keluar) dari tempat duduknya, kemudian kembali, maka ia lebih berhak menempatinya.” (HR. Muslim).

7. Jangan berbisik berduaan dengan tidak melibatkan orang ke tiga.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian sedang bertiga, maka yang dua orang tidak boleh berbisik-bisik tanpa melibatkan yang ketiga sehingga kalian berbaur dengan orang banyak, karena hal tersebut dapat membuatnya sedih.” (Muttafaq ’alaih).

8. Jangan banyak tertawa.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memperba-nyak tawa, karena banyak tawa itu mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

9. Jagalah pembicaraan yang terjadi di dalam forum (majlis). Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang membicarakan suatu pembicaraan, kemudian ia, maka itu adalah amanat.” (HR. At-Tirmidzi, dinilai hasan oleh Al-Albani) Amanah bagi yang ditoleh.

10. Jangan melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan perasaan orang lain, seperti menguap, membuang ingus atau bersendawa di dalam majlis.

11. Jangan memata-matai.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kamu mencari-cari atau memata-matai orang.” (Muttafaq ’alaih).

12. Tutuplah majlis dengan do`a kaffarah majlis. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang duduk di dalam suatu majlis dan di majlis itu terjadi banyak gaduh, kemudian sebelum bubar dari majlis itu ia berdo’a,

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan segala puji bagi-Mu;

aku bersaksi bahwasanya tiada yang berhak disembah selain Engkau; aku memohon ampunan-Mu dan aku bertobat kepada-Mu,”

“Melainkan Allah mengampuni apa yang terjadi di majlis itu baginya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Utamakan duduk bersama orang-orang shalih dan fakir miskin muslimin. Allah berfirman yang artinya:

“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”.(Al-Kahfi :28)

13. Isilah majlis dengan ingat kepada Allah agar tidak bernilai kotor di sisi Allah dan kerugian (HR. Abu Daud)

14. Jagalah kebersihan dan bau harum atau kesegaran ruangan.

15. Bicaralah secara halus dan sopan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'af-kanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. 3:159)



http://caraislam.weebly.com/ ISLAM ITU INDAH

Monday, February 5, 2018

Terjemahan Kitab  Ta’lim Muta’allim  (Pelita Penuntut Ilmu ) Bab 4 - 6

Terjemahan Kitab 

Ta’lim Muta’allim 
(Pelita Penuntut Ilmu )
Bab 4 - 6

Mushanif : Al  ‘alamah Syaikh Burhanuddin Az zanurji

PASAL IV

MENGAGUNGKAN ILMU DAN AHLI ILMU

 1. Mengagungkan Ilmu

اعلم أن طالب العلم لا ينال العلم ولا ينتفع به إلا بتعظيم العلم وأهله،
وتعظيم الأستاذ وتوقيره.

Penting diketahui, seorang pelajar tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula ilmunya dapat bermanfaat, selain jika mau mengagungkan ilmu itu sendiri, ahli ilmu, dan menghormati keagungan gurunya.

قيل: ما وصل من وصل إلا بالحرمة، وما سقط من سقط إلا بترك الحرمة. وقيل:
الحرمة خير من الطاعة، ألا ترى أن الإنسان لا يكفر بالمعصية، وإنما يكفر
باستخفافها، وبترك الحرمة. ومن تعظيم العلم تعظيم الأستاذ

Ada dikatakan : “Dapatnya orang mencapai sesuatu hanya karena mengagungkan sesuatu itu, dan gagalnya pula karena tidak mau mengagungkannya.

“Tidaklah anda telah tahu, manusia tidak menjadi kafir karena maksiatnya, tapi jadi kafir lantaran tidak mengagungkan Allah.

1. Mengagungkan Guru

قال على رضى الله عنه: أنا عبد من علمنى حرفا واحدا، إن شاء باع، وإن شاء
استرق.

Termasuk arti mengagungkan ilmu, yaitu menghormati pada sang guru. Ali ra berkata: “Sayalah menjadi hamba sahaya orang yang telah mengajariku satu huruf. Terserah padanya, saya mau dijual, di merdekakan ataupun
tetap menjadi hambanya.”

وقد أنشدت فى ذلك:

رأيت أحق الحق حق المعلم        وأوجـبه حفظا على كل مسلم

لقد حق أن يهدى إليه كرامة        لتعليم حرف واحد ألف درهم

فإن من علمك حرفا واحدا مما تحتاج إليه فى الدين فهو أبوك فى الدين.

Dalam masalah ini saya kemukakan Syi’irnya:

    Keyakinanku tentang haq guru, hak paling hak adalah itu

Paling wajib di pelihara, oleh muslim seluruhnya

demi memulyakan, hadiah berhak di haturkan

seharga dirham seribu, tuk mengajar huruf yang Satu

Memang benar, orang yang mengajarmu satu huruf ilmu yang diperlukan
dalam urusan agamamu, adalah bapak dalam kehidupan agamamu.

وكان أستاذنا الشيخ الإمام سديد الدين الشيرازى يقول: قال مشايخنا: من أراد
أن يكون ابنه عالما ينبغى أن يراعى الغرباء من الفقهاء، ويكرمهم ويطعمهم
ويطيعهم شيئا، وإن لم يكن ابنه عالما يكون حفيده عالما.

Guru kita Syaikhul Imam Sadiduddin Asy-Syairaziy berkata : Guru-guru
kami berucap : “bagi orang yang ingin putranya alim, hendaklah suka
memelihara, memulyakan, mengagungkan, dan menghaturkan hadiah kepada
kaum ahli agama yang tengah dalam pengembaraan ilmiyahnya. Kalau toh
ternyata bukan putranya yang alim, maka cucunyalah nanti.”

ومن توقير المعلم أن لايمشى أمامه، ولا يجلس مكانه، ولا يبتدئ بالكلام عنده
إلا بإذنه، ولا يكثر الكلام عنده، ولا يسأل شيئا عند ملالته ويراعى الوقت،
ولا يدق الباب بل يصبر حتى يخرج الأستاذ.

Termasuk arti menghormati guru, yaitu jangan berjalan di depannya, duduk
di tempatnya, memulai mengajak bicara kecuali atas perkenan darinya,
berbicara macam-macam darinya, dan menanyakan hal-hal yang membosankannya, cukuplah dengan sabar menanti diluar hingga ia sendiri yang keluar dari rumah.

فالحاصل: أنه يطلب رضاه، ويجتنب سخطه، ويمتثل أمره فى غير معصية لله تعالى،
فإنه لا طاعة للمخلوق فى معصية الخالق كما قال النبى صلى الله عليه وسلم:
إن شر الناس من يذهب دينه لدنيا بمعصية الخالق.    ومن توقيره: توقير
أولاده ومن يتعلق به.

Pada pokoknya, adalah melakukan hal-hal yang membuatnya rela, menjauhkan
amarahnya dan menjungjung tinggi perintahnya yang tidak bertentangan
dengan agama, sebab orang tidak boleh taat kepada makhluk dalam melakukan perbuatan durhaka kepada Allah Maha Pencipta. Termasuk arti menghormati guru pula, yaitu menghormati putera dan semua orang yang
bersangkut paut dengannya.

وكان أستاذنا شيخ الإسلام برهان الدين صاحب الهداية رحمة الله عليه حكى: أن
واحدا من أكابر الأئمة بخارى كان يجلس مجلس الدرس، وكان يقوم فى خلال الدرس
أحيانا فسألوا عنه, فقال: إن ابن أستاذى يلعب مع الصبيان فى السكة، ويجيئ
أحيانا إلى باب المسجد، فإذا رأيته أقوم له تعظيما لأستاذى.

Di sini Guru kita Syaikhul Islam Burhanuiddin Shahibul Hidayah pernah bercerita bahwa ada seorang imam besar di Bochara, pada suatu ketika sedang asyiknya di tenmgah majlis belajar ia sering berdiri lalu duduk kembali. Setelah ditanyai kenapa demikian, lalu jawabnya : ada seorang
putra guruku yang sedang main-main dihalaman rumah dengan teman-temannya, bila saya melihatnya sayapun berdiri demi menghormati guruku.

والقاضى الإمام فخر الدين الأرسابندى كان رئيس الأئمة فى مرو وكان السلطان
يحترمه غاية الاحترام وكان يقول: إنما وجدت بهذا المنصب بخدمة الأستاذ فإنى
كنت أخدم الأستاذ القاضى الإمام أبا زيد الدبوسى وكنت أخدمه وأطبخ طعامه
[ثلاثين سنة] ولا آكل منه شيئا.

Qodli Imam Fakhruddin Al-Arsyabandiy yang menjabat kepala para imam di
marwa lagi pula sangat di hormati sultan itu berkata : “Saya bisa menduduki derajat ini, hanyalah berkah saya menghormati guruku. Saya menjadi tukang masak makanan beliau, yaitu beliau Abi Yazid Ad-Dabbusiy,
sedang kami tidak turut memakannya.”

وكان الشيخ الإمام الأجل شمس الأئمة الحلوانى رحمة الله عليه قد خرج من
بخارى وسكن فى بعض القرى أياما لحادثة وقعت له وقد زاره تلاميذه غير الشيخ
الإمام شمس الأئمة القاضى بكر بن محمد الزرنجرى رحمه الله تعالى، فقال له
حين لقيه: لماذا لم تزرنى؟ قال: كنت مشغولا بخدمة الولادة. قال: ترزق
العمر، لاترزق رونق الدرس، وكان كذلك، فإنه كان يسكن فى أكثر أوقاته فى
القرى ولم ينتظم له الدرس

Syaikhul Imamil Ajall Syaikhul Aimmah Al-Khulwaniy, karena suatu peristiwa yang menimpa dirinya, maka berpindah untuk beberapa lama, dari Bochara kesuatu pedesaan. Semua muridnya berziarah kesana kecuali satu orang saja, yaitu syaikhul imam Al-qadli Abu Bakar Az-Zarnujiy. Setelah
suatu saat bisa bertemu, beliau bertanya: “kenapa engkau tidak menjengukku? Jawabnya : “Maaf tuan, saya sibuk merawat ibuku” beliau berkata: “Engkau dianugrahi panjang usia, tetapi tidak mndapat anugrah buah manis belajar.” Lalu kenyataanya seperti itu, hingga sebagian banyak waktu Az-Zarnujiy digunakan tinggal di pedesaan yang membuatnya kesulitan belajar.

فمن تأذى منه أستاذه يحرم بركة العلم ولا ينتفع بالعلم إلا قليلا.

[إن الـمـعلم والطـبيب كـلاهـما! لا ينصحـان إذا هـما لم يكــرما]

[فاصبر لدائك إن جفوت طبيبه! واقنع بجهلك إن جفوت معلما]

Barang siapa melukai hati sang gurunya, berkah ilmunya tertutup dan hanya sedikit kemamfaatannya.
  
    Sungguh, dokter dan guru

Tak akan memberi nasehat, bila tak di hormat
  
    terimalah penyakitmu, bila kau acuh doktermu

dan terimalah bodohmu, bila kau tentang sang guru

حكى أن الخليفة هارون راشيد بعث ابنه إلى الأصمعى ليعلمه العلم والأدب فرآه
يوما يتوضأ ويغسل رجله، وابن الخليفة يصب الماء على رجله، فعاتب الأصمعى
[فى ذلك] بقوله: إنما بعثت إليك لتعلمه وتؤدبه فلماذا لم تأمره بأن يصب
الماء بإحدى يديه، ويغسل بالأخرى رجلك؟

Suatu hikayat : Khalifah Harun Ar-Rasyid mengirim putranya kepada Al-Ashma’iy agar diajar ilmu dan adab. Pada suatu hari, Khalifah melihat Al-Ashma’iy berwudlu dan membasuh sendiri kakinya, sedang putra khalifah cukup menuang air pada kaki tersebut. Maka, Khalifahpun menegur dan
ujarnya : “Putraku saya kirim kemari agar engkau ajar dan didik; tapi mengapa tidak kau perintahkan agar satu tangannya menuang air dan tangan satunya lagi membasuh kakimu?”

 1. Memulyakan Kitab

ومن تعظيم العلم: تعظيم الكتاب، فينبغى لطالب العلم أن لا يأخذ الكتاب إلا
بطهارة.    وحكىعن الشيخ شمس الأئمة الحلوانى رحمه الله تعالى أنه قال:
إنما نلت هذا العلم بالتعظيم، فإنى ما أخذت الكاغد إلا بطهارة. والشيخ
الإمام شمس الأئمة السرخسى كان مبطونا فى ليلة، وكان يكرر، وتوضأ فى تلك
الليلة سبع عشرة مرة لأنه كان لا يكرر إلا بالطهارة، وهذا لأن العلم نور
والوضوء نور فيزداد نور العلم به.

Termasuk arti mengagungkan ilmu, yaitu memulyakan kitab, karena itu, sebaiknya pelajar jika mengambil kitabnya itu selalu dalam keadaan suci. 

Hikayat, bahwa Syaikhul islam Syamsul Aimmah Al-Khulwaniy pernah berkata: “Hanya saya dapati ilmu ilmuku ini adalah dengan mengagungkan.

Sungguh, saya mengambil kertas belajarku selalu dalam keadaan suci.

Syaikhul Imam Syamsul Aimmah As-sarkhasiy pada suatu malam mengulang
kembali pelajaran-pelajarnnya yang terdahulu, kebetulan terkena sakit perut. Jadi sering kentut. Untuk itu ia melakukan 17 kali berwudlu dalam
satu malam tersebut, karena mempertahankan supaya belajar dalam keadaan suci. Demikianlah sebab ilmu itu cahaya, wudlupun cahaya. Dan cahaya ilmu akan semakin cemerlang bila di barengi cahaya berwudlu.

ومن التعظيم الواجب للعالم أن لا يمد الرجل إلى الكتاب ويضع كتاب التفسير
فوق سائر الكتب [تعظيما] ولا يضع شيئا آخر على الكتاب.

Termasuk memulykan yang harus dilakukan, hendaknya jangan membentangkan
kaki kearah kitab. Kitab tafsir letaknya diatas kitab-kitab lain, dan jangan sampai menaruh sesuatu diatas kitab.

وكان أستاذنا الشيخ برهان الدين رحمه الله تعالى يحكى عن شيخ من المشايخ:
أن فقيها كان وضع المحبرة على الكتاب، فقال له [بالفارسية]: برنيايى

Guru kita Burhanuddin pernah membawakan cerita dri seorang ulama yang mengtakan ada seoranag ahli fikih meletakan botol tinta di atas kitab. Ulama itu sraya berkata : “Tidak bermanfaat ilmumu.

وكان أستاذنا القاضى الإمام الأجل فخر الدين المعروف بقاضى خان رحمه الله
تعالى يقول: إن يرد بذلك الاستخفاف فلا بأس بذلك والأولى أن يحترز عنه.

Guru kita Qodli Fakhrul Islam yang termasyur dengan Qodli Khan pernah
berkata: “Kalau yang demikian itu tidak dimaksud meremehkan, maka tidak
mengapalah. Namun lebih baiknya disingkiri saja.”

ومن التعظيم: أن يجود كتابة الكتاب ولا يقرمط ويترك الحاشية إى عند الضرورة.

ورأى أبو حنيفة رحمه الله تعالى كتابا يقرمط فى الكتابة فقال: لا تقرمط
خطك، إن عشت تندم وإن مت تشتم. يعنى إذا شخت وضعف نور بصرك ندمت على ذلك.
وحكى عن الشيخ الإمام مجد الدين الصرخكى، حكى أنه قال: ما قرمطنا ندمنا،
وما انتخبنا ندمنا، وما لم نقابل ندمنا

Termasuk pula arti mengagungkan, hendak menulis kitab sebaik mungkin.
Jangan kabur, jangan pula membuat catatan penyela/penjelas yang membuat
tulisan kitab tidak jelas lagi, kecuali terpaksa harus dibuat begitu.

Abu hanifah pernah mengetahui seorang yang tidak jelas tulisannya, lalu
ujarnya: “Jangan kau bikin tulisanmu tidak jelas, sedang kau kalau ada
umur panjang akan hidup menyesal, dan jika mati akan dimaki.” Maksudnya,
jika kau semakin tua dan matamua rabun, akan menyesali perbuatanmua
sendiri itu. Diceritakan dari Syaikhul Imam Majduddin Ash-Shorhakiy pernah berkata: “Kami menyesal;I tulisan yang tidak jelas, catatan kami
yang pilih-pilih dan pengetahuan yang tidak kami bandingkan dengan kitab
lain.”

وينبغى أن يكون تقطيع الكتاب مربعا، فإنه تقطيع أبى حنيفة رحمه الله تعالى،
وهو أيسر على الرفع والوضع والمطالعة

Sebaiknya format kitab itu persegi empat, sebagaimana format itu pulalah kitab-kitab Abu Hanifah. Dengan format tersebut, akan lebih memudahkan jika dibawa, diletakkan dan di muthalaah kembali.

وينبغى أن لا يكون فى الكتابة شيئ من الحمرة، فإنه من صنيع الفلاسفة لا
صنيع السلف، ومن مشايخنا كرهوا استعمال المركب الأحمر.

Sebaiknya pula jangan ada warna merah didalam kitab, karena hal itu perbuatan kaum filsafat bukan ulama salaf. Lebih dari itu ada diantara guru-guru kita yang tidak suka memakai kendaraan yang berwarna merah.

 1. Menghormati Teman

    

ومن تعظيم العلم: تعظيم الشركاء [فى طلب العلم والدرس] ومن يتعلم منه.
والتملق مذموم إلا فى طلب العلم. فإنه ينبغى أن يتملق لأستاذه وشركائه
ليستفيد منهم

Termasuk makna mengagungkan ilmu pula, yaitu menghormati teman belajar dan guru pengajar. Bercumbu rayu itu tidak dibenarkan, selain dalam menuntut ilmu. Malah sebaliknya di sini bercumbu rayu degnan guru dan teman sebangku pelajarannya.

 1. Sikap Selalu Hormat Dan Khidmah

    

وينبغى لطالب العلم أن يستمع العلم والحكمة بالتعظيم والحرمة، وإن سمع
مسألة واحدة أو حكمة واحدة ألف مرة. وقيل: من لم يكن تعظيمه بعد ألف مرة
كتعظيمه فى أول مرة فليس بأهل العلم.

Hendaknya penuntut ilmu memperhatikan segala ilmu dan hikmah atas dasar
selalu mengagungkan dan menghormati, sekalipun masalah yang itu-itu saja
telah ia dengar seribu kali. Adalah dikatakan : “Barang siapa yang telah
mengagungkannya setelah lebih dari 1000 kali tidak sebagaimana pada
pertama kalinya, ia tidak termasuk ahli ilmu.”

 1. Jangan Memilih Ilmu Sendiri

    

وينبغى لطالب العلم أن لا يختار نوع العلم بنفسه، بل يفوض أمره إلى
الأستاذ، فإن الأستاذ قد حصل له التجارب فى ذلك، فكان أعرف بما ينبغى لكل
واحد وما يليق بطبيعته.

Hendaklah sang murid jangan menentukan pilihan sendiri terhadap ilmu yang akan dipelajari. Hal itu dipersilahkan sang guru untuk menentukannya, karena dialah yang telah berkali-kali melakukan percobaan
serta dia pula yang mengetahui ilmu yang sebaiknya diajarkan kepada seseorang dan sesuai dengan tabiatnya.

وكان الشيخ الإمام الأجل الأستاذ برهان الحق والدين رحمه الله تعالى يقول:

كان طلبة العلم فى الزمان الأول يفوضون أمرهم فى التعلم إلى اساتذهم،
وكانوا يصلون إلى مقصودهم ومرادهم، والآن يختارون بأنفسهم، فلا يحصل
مقصودهم من العلم والفقه.

Syaikhul Imam Agung Ustadz Burhanul Haq Waddin ra. Berkata: “Para siswa dimasa dahulu dengan suka rela menyerahkan sepenuhnya urusan-urusan belajar kepada gurunya, ternyata mereka peroleh sukses apa yang di idamkan; tetapi sekarang pada menentukan pilihan sendiri, akhirnyapun
gagal cita-citanya dan tidak bisa mendapatkan ilmu dan fihq.”

وكان يحكى أن محمد بن إسماعيل البخارى رحمه الله تعالى كان بدأ بكتابة
الصلاة على محمد بن الحسن رحمه الله، فقال له محمد بن الحسن: إذهب وتعلم
علم الحديث، لما روى أن ذلك العلم أليق بطبعه، فطلب علم الحديث فصار فيه
مقدما على جميع أئمة الحديث

Hikayat orang, bahwa Muhammad bin Ismail Al-Bukhariy pada mulanya adalah
belajar shalat kepada Muhammad Ibnul Hasan. Lalu sang guru ini memerintahkan kepadanya : “Pergilah belajar ilmu hadist! “setelah mengetahui justru ilmu inilah yang lebih sesuai untuk Bukhariy. Akhirnya
pun ia belajar hadist hingga menjadi imam hadist paling terkemuka.

 1. Jangan Duduk Terlalu Dekat Dengan Guru

    

وينبغى لطالب العلم أن لايجلس قريبا من الأستاذ عند السبق بغير ضرورة، بل
ينبغى أن يكون بينه وبين الأستاذ قدر القوس فإنه أقرب إلى التعظيم.

Diwaktu belajar, hendaklah jangan duduk terlalu mendekati gurunya,
selain bila terpaksa. Duduklah sejauh antar busur panah. Karena dengan
begitu, akan terlihat mengagungkan sang guru.

 1. Menyingkiri Akhlak Tercela

    

وينبغى لطالب العلم أن يحترز عن الأخلاق الذميمة، فإنها كلاب معنوية، وقد
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا تدخل الملائكة بيتا فيه كلب أو صورة.
وإنما يتعلم الإنسان بواسطة ملك.

والأخلاق الذميمة تعرف فى كتاب الأخلاق وكتابنا هذا لا يحتمل بيانها.

[وليحترز] خصوصا عن التكبر ومع التكبر لا يحصل العلم.

قيل:    العلم حرب [للفتى] المتعالى        كالسيل حرب للمكان العالى

قيل:    بجـد لا بجــد كــل مـجــد         فهل جد بلا جد بمجدى

فكم من عبد يقوم مقام حر        وكم حر يقوم مقام عبد

Pelajar selalu memnjaga dirinya daripada akhlak-akhlak yang tercela.
Karena akhlak buruk itu ibarat anjing. Rasulullah saw bersabda:
“Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar atau
anjing”. Padahal orang belajar itu dengan perantara malaikat. Dan
terutama yang disingkiri adalah sikap takabur dan sombong.

Syai’ir dikatakan:

  

    ilmu itu musuh bagi penyombong diri

laksan air bah, musuh dataran tinggi

–    Diraih keagungan dengan kesungguhan bukan semata dengan harta tumpukan

bisakah agung didapat? Dengan harta tanpa semangat?
 
    Banyak sahaya, menduduki tingkat merdeka

Banyak orang merdeka, menduduki tingkat sahaya

فصل

  فى الجد والمواظبة والهمة

FASAL V

SUNGGUH-SUNGGUH, KONTINUITAS
DAN CITA-CITA LUHUR

 1. Kesungguhan Hati

    

ثم لا بد من الجد والمواظبة والملازمة لطالب العلم، وإليه الإشارة فى
القرآن بقوله تعالى: يا يحيى خذ الكتاب بقوة. وقوله تعالى: والذين جاهدوا
فينا لنهدينهم سبلنا

Selain itu semua, pelajar juga harus bersungguh hati dalam belajar serta
kontinu (terus-terusan). Seperti itu pula di tunjukkan firman Allah:
“Dan Orang-orang yang mencari keridhaan Kami, niscaya Kami tunjukkan
mereka kepada jalan-jalan Kami” (Surat 29, Al-Ankabut 69).

وقيل: من طلب شيئا وجد وجد، ومن قرع الباب ولج ولج. وقيل: بقدرما تتعنى
تنال ما تتمنى.

Ada dikatakan pula : “siapa sungguh-sungguh dalam mencari sesuatu pastilah ketemu” “Brangsiapa mengetuk pintu bertubi-tubi, pasti dapat memasuki”. ada dikatakan lagi: “Sejauhmana usahamu, sekian pula tercapai
cita-citamu”

وقيل: يحتاج فى التعلم والتفقه إلى جد ثلاثة: المتعلم، والأستاذ، والأب، إن
كان فى الأحياء

Ada dikatakan : “Dalam mencapai kesuksesan mempelajari ilmu dan fiqh itu diperlukan kesungguhan tiga fihak. Yaitu guru, pelajar dan wali murid jika masih ada.”

أنشدنى الشيخ الإمام الأجل الأستاذ سديد الدين الشيرازى للشافعى رحمهما الله:

الجـــد يــدنـى كــل أمـر شـاسـع            والـجــد يفــتـح كــل باب
مــغـلـق

وأحق خلق الله تعالى بالهم امرؤ            ذو هــمـة يــبلـى بـعــيـش ضـيـق

ومن الدليل على القضاء وحكمه            بؤس اللبيب وطيب عيش الأحمق

لكن من رزق الحجا حرم الغنى            ضـدان يــفـــتـرقــان أى تــفــرق

Syi’ir gubahan Asy-Syafi’iy dikemukan kepadaku oleh Al Ustadz Sadiduddin
Asy-Syairaziy:

  
    Dengan kesungguhan, hal yng jauh jadi berada pintu terkuncipun jadi
    terbuka
  
    Titah Allah yang paling berhaq bilang sengsara, yang bercita tinggi
    namun hidupnya miskin papa
  
    Disini bukti kelestarian taqdir dan hukumNya, bila sipandai hidup
    sengsara, sedang sibodoh cukup berharta
  
    Tapi yang hidup akalny, tidak di beri harta dan benda, keduanya pada
    berpisah, satu disini satu disana

وأنشدت لغيره:

تمـنيت أن تمسى فـقيها مناظـرا                بغـير عناء والجـنون فنون

وليس اكتساب المال دون مشقة                تحملها فالعلم كـيف يكون؟

Syi’ir gubahan lain Asy-Syafi’iy dikemukan padaku:

  

    Kau idamkan menjadi paqih penganlisa, padahal tidak mu sengsara,
    macam-macam sajalah penyakit gila
  
    Tidak bakal engkau memboyong harta, tanpa menanggung masakat derita,
    ilmupun begitu pula

قال أبو الطيب المتنبى:

ولم أرى فـى عيوب الناس عيبا            كنقص القادرين على التمام

Abut Thayib berkata:

  
    Tak kulihat aib orang sebagai cela, bagaikan orang kuasa yang tak
    mau memenuhi apa mestinya.

Pelajar pula harus sanggup tidak tidur bermalam-malam sebagaimana

ولا بد لطالب العلم من سهر الليالى كما قال الشاعر:

بقـدر الـكــد تكــتـسـب المـعالى             ومـن طـلـب الـعـلى سـهـر
اللـيالى

تــروم الــــعــز ثـم تنــام لــــيلا            يغوص فى البحر مـن طلب
اللآلى

علـو الـكــعـب بالهـمـم الـعـوالى            وعـن الـــمـرء فـى ســهـر
اللـيالى

تركــت الــنوم ربى فى اللــيالى            لأجــل رضـاك يامــولـى الـمـوالى

ومــن رام الــعـلى مـن غـير كد            أضاع الـعـمـر فى طـلب المـحــال

فــوفـقـنى إلـى تحــصــيل عـلـم            وبلـغــنـى إلـى أقــصـى
الـمـعــالى

قيل: اتخذ الليل جملا تدرك به أملا

kata penyair:

  

    Seukur kesulitan, ukuran keluhuran, siapa ingin luhur, jangan tidur
    semalaman

  

    Kau ingin mulya, tapi tidur di malam hari,dengan menyelam laut,
    permata kan didapati
  
    Keluhuran derajat, dengan hikmah yang tinggi, keluhuran seseorang,
    dengan berjaga di malam hari
  
    Oh tuhan, kubuang tidurku di malam hari, demi ridhaMu Ya Maulal Mawali
  
    Siapa tanpa mau sengsara inginkan keluhuran, mengulur umur yang
    takkan kedapatan
  
    Tolonglah saya agar mendapat ilmu, sampaikan saya dikemulyaan sisiMu
  
    Jadikanlah malam, unta tunggangann buat kau dapat, yang kau citakan

قال المصنف وقد اتفق لى نظم فى هذا المعنى شعر:

مـن شاء أن يحـتوى آماله جـملا            فلـيتـخـذ لــيله فـى دركــها
جــمـلا

إقلل طعامك كى تحظى به سهرا            إن شئت يا صاحبى أن تبلغ الكملا

وقيل: من أسهر نفسه بالليل، فقد فرح قلبه بالنهار.

Pengarang kitab berkata : I ada Nadzam yang sema’na dengan syi’ir-syi’ir di atas, yaitu:

  
    Barangsiapa ingin semua maksudnya tercapai, jadikanlah malam,
    tunggangan untuk mencpai
  
    Kurangilkah makan, agar kau mampu berjaga, bila kau idamkan,
    mendapat sempurna

Ada dikatakan : “Barang siapa tidak tidur dimalam hari, hatinya bahagia
di siang hari.”

 1.kontinuitas dan mengulang pelajaran.

    

ولا بد لطالب العلم من المواظبة على الدرس والتكرار فى أول الليل وآخره،
فإن ما بين العشائين، ووقت السحر، وقت مبارك.

Tidak boleh tidak, pelajar harus dengan kontinyu sanggup dan mengulangi
pelajaran yang telah lewat. Hal itu dilakukan pada awal waktu malam, akhir waktu malam. Sebab waktu diantara maghrib dan isya, demikian pula waktu sahur puasa adalah membawa berkah.

قيل فى هذا المعنى:

يا طالب العـلم باشـر الورعا    وجـانب الـنوم واترك الشبعـا

وداوم على الدرس لا تفارقه    فإن العلم بالدرس قام وارتفعا

– hai pelajaran, patuhilah waro’

singkiri tidur, dari perut kenyang
  
    langgengkan pelajar, jangan kau rusak

    dengan belajar, ilmu tegak dan makin menanjak

فيغتنم أيام الحداثة وعنفوان الشباب، كما قيل:

بقـدر الـكــد تعــطى ما تروم    فـمــن رام المـنى لــيلا يقـوم

وأيام الـحــداثـة فـاغـتـنـمـهـا    ألا إن الــحــــــداثــة لاتــدوم

Hendaknya pula mengambil kesempatan masa muda dan awal remajanya. Syi’ir
mengemukakan:

  

    Sebesar sengsara, itulah kesuksesan citamu.

Siapa menuju citz, jangan tidur dimalam berlalu
  
    Sempatkan dirimu, dimasa muda

Dan ingat, masa itu tak lama berada

 1. Menyantuni Diri

    

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ألا إن هذا الدين متين فأوغل فيه برفق،
ولا تبغض نفسك فى عبادة الله تعالى فإن المنبت لا أرضا قطع ولا ظهرا أبقى.

وقال عليه السلام: نفسك مطيتك فارفق بها

Jangan membuat dirinya sendiri bersusah payah, hingga jadi lemah dan tak
mampu berbuat apa-apa. Ia harus selalu menyantuni dirinya sendiri.
Kesantunan itu mendasari kesuksesan segala hal. Rasulullah saw. Bersabda: 

“Ingatlah, bahwa islam itu agama yang kokoh. Santunilah dirimu dalam menunaikan tugas agama, jangan kau buat dirimu sengsara lantaran ibadahmu kepada Allah. Karena orang yang telah hilang kekuatannya itu, tiada bisa memutus bumi dan tiada pula kendaraan tunggangannya.”

Nabi saw bersabda : “dirimu itu kendaraanmu, maka santunilah ia.”

 1.  Cita-cita Luhur

    

فلا بد لطالب العلم من الهمة العالية فى العمل، فإن المرء يطير بهمته
كالطير يطير بجناحيه.

وقال أبو الطيب رحمه الله:

على قدر أهل العزم تأتى العـزائم            وتأتى على قـدر الكـرام المكارم

وتعظم فى عين الصغير صغارها            وتصغر فى عين العظيم العظائم

Pelajar harus luhur cita-citanya dalam berilmu. Manusia itu akan terbang
dengan cita-citanya, sebagaimna halnya burung terbang dengan kedua sayapnya.

Abuth-Thoyyib berucap:

    Seberapa kadar ahli cita, si cita-cita kan didapati

Seberapa kadar orang mulya, sikemulyaan kan di temui

  
    Barang kecil tampaknya besar, dimata orang bercita kecil

Barang besar dimata oarang bercita besar, tampaknya kecil

والركن فى تحصيل الأشياء الجد والهمة العالية، فمن كانت همته حفظ جميع كتب
محمد بن الحسن، واقترن بذلك الجد والمواظبة، فالظاهر أنه يحفظ أكثرها أو
نصفها، فأما إذا كانت له همة عالية ولم يكن له جد، أو كان له جد ولم تكن له
همة عالية لا يحصل له العلم إلا قليلا.

Pangkal kesuksesan adalah kesungguhan dan himmah yang luhur. Barang siapa berhimmah menghapalkan seluruh kitab Muhammad Ibnul Hasan, lagi pula disertai usaha yang sungguh-sungguh dan tak kenal berhenti, maka menurut ukuran lahir pasti akan bisa menghafal sebagian besar atau
separohnya.

Demikian pula sebaliknya, bila ita-citanya tinggi tapi tidak ada kesungguhan berusaha, atau sungguh-sungguh tetapi tidak bercita-cita tinggi, maka hanya sedikit pula ilmu yang berhasil didapatkannya.

وذكر الشيخ الامام الأجل الأستاذ رضى الدين النيسابورى فى كتاب مكارم
الأخلاق أن ذا القرنين لما أراد أن يسافر ليستولى على المشرق والمغرب، شاور
الحكماء وقال: كيف أسافر بهذا القدر من الملك، فإن الدنيا قليلة فانية،
وملك الدنيا أمر حقير، فليس هذا من علو الهمة.

فقال الحكماء: سافر ليحصل لك ملك الدين والآخرة.    فقال: هذا أحسن.

وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الله يحب معالى الأمور ويكره سفسافها.

وقيل : فلا تعجل بأمرك واستدمه    فما صلى عصاك كمستديم

Di dalam kitab Makarimul Akhlak, Syaikhul Imam Al-Ustadz Ridladdin
mengemukakan, bahwa kaisar Dzul Qarnain dikala berkehendak menaklukan
dunia timur dan barat bermusyawarah dengan para Hukama’ dan katanya :

Bagaimana saya harus pergi untuk memperoleh kekuasaan dan kerajaan ini,
padahal dunia ini hanya sedikit nilainya, fana dan hina, yang berarti ini bukan ita-cita luhur? Hukama menjawab : “Pergilah Tuan, demi mendapat dunia dan akherat.” Kaisar menyahut: “Inilah yang baik.”

Rasulullah saw. Bersabda : “Sungguh, Allah senang perkara-perkara yang
luhur tetapi benci yang hina.’
Syi’ir dikatakan;
  
    Jangan tergesa menangani perkaramu, senantiasalah begitu!

Takada yang bisa meluruskan tongkatmu, seperti yang meluruskannya selalu.

قيل: قال أبو حنيفة رضى الله لأبى يوسف: كنت بليدا أخرجتك المواظبة، وإياك
والكسل فإنه شؤم وآفة عظيمة.

Ada dikatakan : Abu Hanifah berkata kepada Abu Yusuf : ” Hati dan akalmu tertutup. Tapi engkau bisa keluar dari belenggu itu dengan cara terus-terusanbelajar. Jauhilah malas-malas yang jahat dan petaka itu.”

قال الشيخ الإمام أبو نصر الصفار الأنصارى:

يا نفس يا نفس لا ترخى عن العمل        فى البر والعدل والإحسان فى مهل

فـكـل ذى عـمـل فى الخـير مـغـتبط        وفـى بـلاء وشــؤم كــل ذى كــسـل

Syaikh Abu Nashr Ash-Shoffar Al-Anshariy berkata:

  

    Diriku oh diriku, janganlah kau bermalas-malasan

Untuk berbakti, adil, berbuat bagus perlahan-lahan

  
    Setiap yang beramal kebajikan, untung kan didapat

Tapi yang bermalasan, tertimpa balak dan keparat.

قال المصنف: وقد اتفق لى فى هذا المعنى شعر:

دعى نـفـسى الـتكــاسـل والـتـوانـى         وإلا فـاثـــبــتـى فـى ذا
الـــهـــوان

فلم أر للـكــسـالـى اـلحـظ [ يعطى]        ســوى نــدم وحــــرمــان
الأمــانـى

Ada syi’ir gubahanku yang semakna itu:
  
    Tinggalkanlah oh diriku, bermalasan dan menunda urusan

Kalau tidak, letakkan saja aku, dijurang kehinaan
  
    Tak kulihat, orang pemals mendapat imbal

Selain sesal, dan cita-cita menjadi gagal.

وقيل: كـم مـن حـياء وكم عـجـز وكـم نـدم        جــم تــولـــد للإنـسـان
مــن كـــسـل

[ إياك عن كسل فى البحث عن شبه        فـمــا علـمـت وما قـد شذ عنك سل]

وقد قيل : الكسل من قلة التأمل فى مناقب العلم وفضائله،

Syi’ir diucapkan:

  

    Bertumpuk malu, lemah dan sesal

Kebanyakan dari akibat orang malas beramal
  
    Buanglah segan untuk membahas yang belum jelas

Segala yang kau tahu, dan yang masih ragu akibat malas

Kata-kata mutiara di ucapkan : Sikap malas adalah timbul dari akibat jarang menghayati kemulyaan dan keutamaan ilmu.”

 1. Usah sekuat Tenaga

    

فينبغى أن يتعب نفسه على التحصيل والجد والمواظبة بالتأمل فى فضائل العلم،
فإن العلم يبقى [ببقاء المعلومات] والمال يفنى، كما قال أمير المؤمنين على
بن أبى طالب كرم الله وجهه:

رضـينا قسمة الجـبار فينا            لـنا علم وللأعـداء مال

فإن المال يفنى عن قريب            وإن العلم يبقى لا يزال

Hendaklah pelajar bersungguh-sungguh sampai terasa letih guna mencapai
kesuksesan, dan tak kenal berhenti, dan dengan cara menghayati keutamaan
ilmu. Ilmu itu kekal, sedang harta adalah fana, seperti apa yang dikemukakan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib:
  

    Kami rela, bagian Allah untuk kami

Ilmu untuk kami, harta buat musuh kami

  
    Dalam waktu singkat, harta jadi musna

Namun ilmu, abaditak akan sirna

والعلم النافع يحصل به حسن الذكر ويبقى ذلك بعد وفاته فغنه حياة أبدية.

وأنشدنا الشيخ الإمام الأجل ظهير الدين مفتى الأئمة الحسن بن على المعروف
بالمرغينانى:

الجـــاهـلـون مـوتـى قـبل مـوتـهــم        والعـالمـون وإن ماتوا فأحياء

Ilmu yang bermanfaat akan menjunjung tinggi nama seseorang, tetap harum
namanya walaupun ia sudah mati. Dan karena begitu, ia dikatakan selalu
hidup abadi. Syaikhul Ajall Al-Hasan bin Ali Al-Marghibaniy membawakan
syi’ir buat kami:

    Kaum bodoh, telah mati sebelum mati

Orang alim, tetap hidup walaupun mati

وأنشدنى الشيخ الإمام الأجل برهان الدين رحمه الله:

وفى الجهل قبل الموت موت لأهله            فـأجــسامهـم قبل القبور قبور

وإن امــرؤ لم يحـــيى بالعلم مــيت            فـليس له حــين النشور نشور

Demikian pula Syaikhul Islam Burhanuddin :

  
    Kebodohan membunuh si bodoh sebelum matinya

Belum dikubur, badanya telah jadi pusara

  
    Orang hidup tanpa berilmu, hukumnya mati

Bila bangkit kembali, tak kan bisa bangkit kembali

[وقال غيره]:

أخـو الـعـلم حـي خــالـد بـعـد مــــــوتـه            وأوصـاله تحـت
التراب رمـيم

وذو الجهل ميت وهو يمشى على الثرى            يظهر مـــن الأحياء وهوعديم

Lain lagi :

  
    Orang berilmu, hidup kekal setelah mati

Ruas tubuhnya telah hancur lebur di timbun duli
  
    Orang bodoh, jalan di bumi, mati hukumnya

Dikira hidup, nyatanya mati

وأنشدنى أستاذنا شيخ الإسلام برهان الدين رحمة الله عليه شعرا:

ذا العلم أعلى رتبة فى المــــــــراتب        ومن دونه عز العلى فـى المواكــب

فذو العلم يبقــى عزه متضــاعفـــــــا        وذو الجهل بعد الموت فـى الترائب

فـهــيات لا يرجــو مـداه مـن ارتـقى        رقى ولى الملك والـى
الكــــــــتائب

سأملى عليكــم بعض ما فيه فاسمعوا        فبى حصر عن ذكر كـل المــــناقب

هو النور كل النور يهدى عن العمى        وذو الجهل مر الدهر بين الغــياهب؛

هو الـذروة الشماء تحمى مـــن التجا        إليها ويمشى آمـــــنا فـى
الـــنـوائب

به ينتجــــى والناس فى غفلاتـــــهـم        به يرتجـــــى والـروح بين
الترائب

به يشفع الإنسان مــن راح عاصـــيا        إلى درك النيران شـر العـــــــواقب

فمن رامه رام المآرب كلــــــــــــــها        ومـــــن حازه قد حاز كـل
المطالب

هو المنصب العالى يا صاحب الحجا        إذا نلته هون بفــــــــوت المـناصب

فإن فاتك الدنيا وطيب نعيمـــــــــــها        [ فغمض] فإن العلم خير المواهب

Syakhul Islam Burhanuddin membawakan Syi’ir buat kita :

  

    Kalau sang ilmu, tingkat tertinggi tuk tempat singgah

Kalau lainnya, meninggi bila banyak anak buah

  
    Orang berilmu, namanya harum berlipat tinggi

Orang bodoh, begitu mati tertimbun duli

  
    Mendaki tinggi, kepuncak ilmu, mustahil bisa

Bila maksudnya, bagai komandan pasukan kuda

  
    Dengarkan dulu, sedikit saja dikte buatmu

Cuma ringkasan, kemulyaan ilmu yang aku tahu

  
    Ia cahaya, penerang buta, terang benderang

tapi si bodoh, sepanjang masa gelap menantang

  
    Dia puncak, menjulang tinggi, pelindung siapa berlindung

Makanya aman, dari segala aral melintang

  
    juru penyelamat, dikala insan terjerat tipu

harapan manis, kala sang nyawa diambang pintu
  
    Ia sarana, guna menolong teman durhaka

Yang jalan bengkok, akibat bobrok, lapis neraka
  
    Yang bertujuan ilmu, berarti telah menuju “segala”

Yang dapat ilmu, artinya telah dapatsegala
 
    Wahai kaum berakal, ilmu itu pangkat mulia

Bila telah didapat, pangkat lain lepas tak mengapa
  
    Bila engkau meninggalkan dunia dengan segala nikmatnya

Pejamkan mata, cukuplah ilmu jadi anugrah berharga
  
    mendaki tinggi kepuncak ilmu mustahil bisa

bila maksudnya bagai komandan pasukan kuda
  
    Dengarkan dulu sedikit saja dikte buatmu

Cuma ringkasan kemulyaan ilmu yang aku tahu
 
    Ia cahaya penerang buta terang benderang

Tapi si bodoh sepanjang masa gelap menantang

  
    Dia puncak menjelang tinggi pelindung siapa berlindung

Makanya aman dari segala aral melintang
  
    Juru penyelamat dikala insan terjerat tipu

Harapan manis kala sang nyawa diambang pintu

  
    Ia sarana guna menolong teman durhaka

Yang jalan bengkok akibat bobrok lapis neraka

  
    Yang bertujuan ilmu berarti telah menuju segala

Yang dapat ilmu artinya telah dapat segala

  
    Wahai kaum berakal ilmu itu pangkat mulia

Bila telah didapat, pangkat lain lepas tak mengapa
  
    bila engkau meninggalkan dunia dengan segala nikmatnya

pejamkan mata, cukuplah ilmu jadi anugrah terharga

وقيل فى هذا المعنى:

إذا مـــــــا اعتز ذو علم بعــــــــــلم        فعلم الفقــــــــه
أولـــــــــى باعتزاز

فكـــــــــــم طيب يفوح ولا كــمسك        وكــــــــــــم طير يطير ولا كبازى

Syi’ir gubahan sebagian para ulama’ dibawakan buatku:

  

    Jikalau karena ilmu, orang alim menjadi mulya

Ilmu fiqh membawa mulya kan lebih bisa
  
    Banyak semerbak yang dengan misik tidak menandingi

Banyak penerbang yang tak seperti raja wali

وأنشدت أيضا لبعضهم:

الفقه أنفس كل شيئ أنت ذا خـــــره        مــن يدرس العلم لم تدرس مفاخره

فاكسب لنفسك ما أصبحت تجهــــله        فأول العلم إقبال
وآخـــــــــــــــــره

Dibawakan lagi untukku :

  

    Fiqh itu ilmu termahal,engkaulah yang memungut

Siapa belajar, tak kan habis hikmah di dapat
  
    Curahkan dirimu, mempelajari yang belum tahu

Awal bahagia, akhirpun bahagia, itulah ilmu

وكفى بلذة العلم والفقه والفهم داعيا وباعثا للعاقل على تحصيل العلم.

Bagi orang yang berakal, telah cukuplah merasa terpanggil Menuju kesuksesan berilmu oleh sebagaimana kelezatan-kelezatan ilmu, fiqh dan kebahagian yang timbul bila sedang faham terhadap suatu masalah.

 1. Sebab Kemalasan

    

وقد يتولد الكسل من كثرة البلغم والرطوبات،

Sikap malas itu bisa timbul akibat dari lendir dahak atau badan
berminyak yang disebabkan orang terlalu banyak makan.

وطريق تقليله، تقليل الطعام.قيل: اتفق سبعون طبيبا على أن النسيان من كثرة
البلغم، وكثرة البلغم من كثرة شرب الماء، وكثرة شرب الماء من كثرة الأكل،

Adapun cara mengurangi dahak itu sendiri adalah bisa dilakukan dengan cara mengurangi makan. Ada dikatakan: “tujuh puluh orang Nabi sependapat bahwa sering lupa itu akibat dahak terlalu banyak, dahak terlalu banyak karena minum terlalu banyak, dan biasa adanya minum terlalu banyak itu
karena makan yang terlalu banyak pula.”

والخبز اليابس يقطع البلغم، وكذلك أكل الزبيب على الريق، ولا يكثر منه، حتى
لايحتاج إلى شرب الماء فيزيد البلغم.

Makan roti kering dn menelan buah anggur kering dapat juga menghilangkan
dahak. Namun jangan terlalu banyak, agar tidak mengakibatkan ingin minum, yang kesudahannya memperbanyak lendir dahak pula.

والسواك يقلل البلغم، ويزيد الحفظ والفصاحة، فإنه سنة سنية، تزيد فى ثواب
الصلاة، وقراءة القرآن،

Bersiwak juga dapat menghilangkan dahak pula. Disamping memperlancar hafalan dan kefasihan lisan. Demikianlah, perbuatan itu termasuk sunah Nabi yang bisa memperbesar pahala ibadah sahlat dan membaca Al-Qur’an.

وكذا القيء يقلل البلغم والرطوبات

Muntah juga dapat mengurangi lendir dahak, dan mengurangi perminyakan badan (yang disebabkan makan terlalu banyak).

 1. Cara Mengurangi Makan

    

وطريق تقليل الأكل التأمل فى منافع قلة الأكل هى: الصحة والعفة والإيثار.
وقيل فيه شعر:

فعار ثم عار ثم عار    شقاء المرء من أجل الطعام

وعن النبى عليه السلم أنه قال: ثلاثة يبغضهم الله من غير جرم: الأكول
والبخيل والمتكبر

Cara mengurangi makan bisa dilakukan dengan cara menghayati faedah dan
mamfaat yang timbul dari makan sedikit. Antara lain adalah badan sehat, lebih terjaga dari yang haram dan berarti pula ikut memikirkan nasib orang lain. Dalam hal ini ada syi’ir menyebutkan :
  
    celaka, celaka dan celaka

karena makan, manusia jadi celaka

Hadist Nabi Saw. Menyebutkan : “tiga orang yang di benci Allah bukan karena ia berdosa, yaitu orang pelahap makan, orang kikir dan orang sombong.

وتأمل فى مضار كثرة الأكل وهى: الأمراض وكلالة الطبع، وقيل: البطنة تذهب
الفطنة.

حكى عن جالينوس أنه قال: الرمان نفع كله، والسمك ضرر كله، وقليل السمك خير
من كثرة الرمان.

وفيه أيضا: إتلاف المال، والأكل فوق الشبع ضرر محض ويستحق به العقاب ودار
الآخرة، والأكول بغيض فى القلوب.

Bisa pula dengan cara menghayati madlarat yang timbul dari akibat makan
terlalu banyak, antara lain sakitdan tolol. Ada dikatakan: “Perut kenyang, kecerdasan hilang”. Ada dikatakan ucapan galinus sebagai berikut: “Semua buah delima bermamfaat, semua ikan laut madlarat. 

Tetapi masih lebih bagus makan ikan laut sedikit, daripada delima tapi banyak,
karena bisa menghabiskan harta. Makan lagi setelah perut kenyang hanyalah membawa madlarat, dan mendatangkan siksa kelak diakherat. Orang terlalu banyak makan itu dibenci setiap orang.”

وطريق تقلييل الأكل: أن يأكل الأطعمة الدسمة ويقدم فى الأكل الألطف
والأشهى، ولايأكل مع الجائع إلا إذا كان له غرض صحيح، بأن يتقوى به على
الصيام والصلاة والأعمال الشاقة فله ذلك.

Caranya lagi untuk mengurangi makan, adalah dengan makanan yang berlemak
atau berzat pemuak. Makan mana yang lebih lembut dan disukai terlebih dahulu. Dan jangan bersama-sama orang yang sedang lapar sekali selain bila hal itu justru harus dilakukan karena bertujuan bak. Misalnya agar kuat berpuasa, mengerjakan shalat atau perbuatan-perbuatan lain yang berat, bolehlah dilakukan.

فصل

فى بداية السبق وقدره وترتيبه

FASAL VI

PERMULAN BELAJAR UKURAN BELAJAR
DAN TATA TERTIBNYA

  

    Hari Mulai Belajar

    

كان أستاذنا شيخ الإسلام برهان الدين رحمه الله يوقف بداية السبق على يوم
الأربعاء، وكان يروى فى ذلك حديثا ويستدل به ويقول: قال رسول الله صلى الله
عليه وسلم: ما من شيئ بدئ يوم الأربعاء إلا وقد تم

Guru kita Syaikhul Islam Burhanuddin memulai belajar tepat Pada hari rabu. Dalam hal ini beliau telah meriwayatkan sebuah hadist sebagai dasarnya, dan ujarnya: Rasulullah saw bersabda: ” tiada lain segala
sesuatu yang di mulai pada hari rabu, kecuali akan menjadi sempurna.”

وهكذا كان يفعل أبى. وكان يروى هذا الحديث عن أستاذه الشيخ الإمام الأجل
قوام الدين أحمد بن عبد الرشيد رحمه الله

Dan seperti ini pula yang dikerjakan Abu Hanifah. Mengenai hadist di atas, beliau juga diriwayatkan dari guru beliau Syaikhul Imam Qawamuddin Ahmad bin Abdur Rasyid.

وسمعت ممن أثق به، أن الشيخ يوسف الهمذانى رحمه الله، كان يوقف كل عمل من
الخير على يوم الأربعاء.

Saya mendengar dari orang kepercayaanku, bahwa Syekh Abu Yusuf Al-Hamdani juga menepatkan semua perbuatan bagus pada hari rabu.

وهذا لأن يوم الأربعاء يوم خلق فيه النور، وهو يوم نحس فى حق الكفار فيكون
مباركا للمؤمنين.

Demikianlah, karena pada hari rabu itu Allah menciptakan cahaya, dan hari itu pyla merupakan hari sial bagi orang kafir yang berarti bagi orang mukmin hari yang berkah.

  

    Panjang Pendeknya Pelajaran

    

وأما قدر السبق فى الإبتداء: كان أبو حنيفة رحمه الله يحكى عن الشيخ القاضى
الإمام عمر بن أبى بكر الزرنجرى رحمه الله أنه قال: قال مشايخنا رحمهم
الله: ينبغى أن يكون قدر السبق للمبتدئ قدر ما يمكن ضبطه بالإعادة مرتين
بالرفق ويزيد كل يوم كلمة حتى أنه وإن طال وكثر يمكن ضبطه بالإعادة مرتين،
ويزيد بالرفق والتدريج، وأما إذا طال السبق فى الإبتداء واحتاج إلى الإعادة
عشر مرات فهو فى الإنتهاء أيضا يكون كذلك، لأنه يعتاد ذلك، ولا يترك تلك
الإعادة إلا بجهد كثير

Mengenai ukuran seberapa panjang panjang yang baru dikaji, menurut
keterangan Abu Hanifah adalah bahwa Syaikh Qadli Imam Umar bin Abu Bakar
Az-Zanji berkata: guru-guru kami berkata: “sebaiknya bagi oarang yang mulai belajar, mengambil pelajaran baru sepanjang yang kira-kira mampu dihapalkan dengan faham, setelah diajarkannya dua kali berulang.
Kemudian untuk setiap hari, ditambah sedikit demi sedikit sehingga setelah banyak dan panjang pun masih bisa menghapal dengan paham pula setelah diulanga dua kali. 

Demikianlah lambat laun setapak demi setapak. Apabila pelajaran pertama yang dikaji itu terlalu panjang sehingga para
pelajar memerlukan diulanganya 10 kali, maka untuk seterusnya sampai yang terakhirpun begitu. Karena hal itu menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan kecuali dengan susah payah.”

وقد قيل: السبق حرف، والتكرار ألف

Ada dikatakan: “pelajaran baru satu huruf, pengulangannya seribu kali.”

  

    Tingkat Pelajaran Yang Di Dahulukan

    

وينبغى أن يبتدئ بشيئ يكون أقرب إلى فهمه، وكان الشيخ الإمام الأستاذ شرف
الدين العقيلى رحمه الله يقول: الصواب عندى فى هذا ما فعله مشايخنا رحمهم
الله، فإنهم كانوا يختارون للمبتدئ صغارات المبسوط لأنه أقرب إلى الفهم
والضبط، وأبعد من الملالة، وأكثر وقوعا بين الناس.

Sebaiknya dimulai dengan pelajaran-pelajaran yang dengan mudah telah
bisa di fahami. Syaikhul Islam Ustadz Syarifuddin Al-Uqaili berkata;
“Menurut saya, yang benar dalam masalah ini adalah seperti yang telah dikemukakan oleh para guru kita. 

Yaitu untuk murid yang baru, mereka
pilihkan kitab-kitab yang ringkas/kecil. Sebab dengan begitu akan lebih mudah di fahami dan di hapal, serta tidak membosankan lagi pula banyak terperaktekan.

  

    Membuat Catatan

    

وينبغى أن يعلق السبق بعد الضبط والإعادة كثيرا، فإنه نافع جد

Sebaiknya sang murid membuat catatan sendiri mengenai pelajaran-pelajaran yang sudah di fahami hafalannya, untuk kemudian
sering diulang-ulang kembali. Karena dengan cara begitu, akan bermanfaat sekali.

ولا يكتب المتعلم شيئا لا يفهمه، فإنه يورث كلالة الطبع ويذهب الفطنة ويضيع
أوقاته.

Jangan sampai menulis apa saja yang ia sendiri tidak tahu maksudnya,
karena hal ini akan menumpulkan otak dan waktupun hilang dengan sia-sia
belaka.

  

    Usaha Memahami Pelajaran

    

وينبغى أن يجتهد فى الفهم عن الأستاذ بالتأمل وبالتفكر وكثرة التكرار، فإنه
إذا قل السبق وكثرة التكرار والتأمل يدرك ويفهم. قيل: حفظ حرفين، خير من
سماع وقرين، وفهم حرفين خير من حفظ سطرين. وإذا تهاون فى الفهم ولم يجتهد
مرة أو مرتين يعتاد ذلك فلا يفهم الكلام اليسير

Pelajar hendaknya mencurahkan kemampuannya dalam memahami pelajaran dari sang guru, atau boleh juga dengan cara diangan-angan sendiri, di fikir-fikir dan sering diulang-ulang sendiri. Karena bila pelajaran yang baru itu hanya sedikit dan sering diulang-ulang sendiri, akhirnyapun
dapat dimengerti. 

Orang berkata : “Hafal dua huruf lebih bagus daripada mendengarkan saja dua batas pelajaran. Dan memahami dua huruf lebih baik daripada menghapal dua batas pelajaran. Apabila seseorang telah pernah
satu atau dua kali mengabaikan dan tidak mau berusaha, maka menjadi terbisakan, dan menjadi tidak bisa memahami kalimat yang tidak panjang sekalipun.

  

    Berdo’a

    

فينبغى أن لا يتهاون فى الفهم بل يجتهد ويدعو الله ويتضرع إليه فإنه يجيب
من دعاه، ولا يخيب من رجاه. وأنشدنا الشيخ الأجل قوام الدين حماد بن
إبراهيم بن إسماعيل الصفار الأنصارى إملاء للقاضى الخليل بن أحمد الشجرى فى
ذلك شعرا:

أخدم العلم خدمـــــــة المستفيد    وأدم درسه بفعل حـــــــميد

وإذا مـــــــا حفظت شيئا أعده    ثم أكده غاية التأكــــــــــــيد

كى لا يزول ثم علقه كى تعود    إليه وإلى درسه على التأبيد

فإذا ما أمنت مــــــــــــنه فواتا    فانتدب بعده لشيئ جــــــديد

مع تكرار ما تقدم مــــــــــــنه    واقتناء لشأن هـــــذا المـزيد

ذاكــــــــر الناس بالعلوم لتحيا    لا تكن من أولى النهى ببعيد

إذا كتمت العلوم أنسيت حــتى    لا ترى غير جـــــاهل وبليد

ثم ألجمت فـــــــى القيامة نارا    وتلهبت بالعـــــــذاب الشديد

Hendaknya pula, dengan sungguh-sungguh memanjatkan do’a kepada Allah dan
meratap serta meronta. Allah pasti mengabulkan do’a yang di mohonkan,
dan tidak mengabaikan orang yang mengharapkan.

Sya’ir Imlak Al-Qadli Al-Khalil Asy-Syajarzi dibawakan kepada kami oleh
guru kami syaikh Qawamuddin Hammad bin Ibrahim bin ismail As-Shaffar,
sebagai berikut :
  

    Abdilah ilmu, bagaikan anda seorang abdi

Pelajari selalu, dengan berbuat sopan terpuji

  
    yang telah kau hafal, ulangi lagi berkali-kali

lalu tambatkan dengan temali kuat sekali
  
    Lalu catatlah, agar kau bisa mengulangi lagi

Dan selamanya, ku bisa mempelajari
  
    Jikalau engkau, telah percaya tak kan lupa

Ilmu yang baru, sesudah itu masuki segera

  
    Mengulang-ulang, ilmu yang dulu, jangan terlalai

Dan bersungguhan, agar yang ini, kan menambahi

  
    Percakapilah mereka, agar ilmumu hidup selalu

Jangan menjauh, dari siap berakal maju

    Bila ilmu, kau sembunyikan jadi membeku

Kau kan kenal, jadi si bodoh yang tolol dungu
  
    Api neraka kan membelenggumu nanti kiamat

Siksa yang pedihpun menimpamu menjilat-jilat

      Mudzakarah Munadharah Dan Mutharahah

    

ولا بد لطالب العلم من المذاكرة، والمناظرة، والمطارحة، فينبغى أن يكون كل
منها بالإنصاف والتأنى والتأمل، ويتحرز عن الشغب [والغضب]، فإن المناظرة
والمذاكرة مشاورة، والمشاورة إنما تكون لاستخراج الصواب وذلك إنما يحصل
بالتأمل والتأنى والإنصاف، ولا يحصل بالغضب والشغب.

Seorang pelajar seharusnya melakukan Mudzakarah (forum saling mengingatkan), munadharah (forum saling mengadu pandangan) dan mutharahah (diskusi). Hal ini dilakukan atas dasar keinsyafan, kalem dan penghayatan serta menyingkiri hal-hal yang berakibat negatif. Munadharah
dan mudzakarah adalah cara dalam melakukan musyawarah, sedang permusyawaratan itu sendiri dimaksudkan guna mencari kebenaran. 

Karena itu, harus dilakukan dengan penghayatan, kalem dan penuh keinsyafan. Dan tidak akan berhasil, bila dilaksanakan dengan cara kekerasan dan berlatar belakang yang tidak baik.

فإن كانت نيته من المباحثة إلزام الخصم وقهره، فلا تحل، وإنما يحل ذلك
لإظهار الحق. والتمويه والحيلة لا يجوز فيها، إلا إذا كان الخصم متعنتا، لا
طالبا للحق. وكان محمد بن يحيى إذا توجه عليه الإشكال ولم يحضره الجواب
يقول: ما ألزمته لازم، وأنا فيه ناظر، وفوق كل ذى علم عليم.

Apabila di dalam pembahasan itu dimaksudkan untuk sekedar mengobarkan
perang lidah, maka tidak diperbolehkan menurut agama. Yang diperbolehkan
adalah dalam rangka mencari kebenaran. 

Bicara berbelit-belit dan membuat alasan itu tidak diperkenankan, selama musuh bicaranya tidak sekedar mencari kemenangan dan masih dalam mencari kebenaran. 

Bila kepada Muhammad bin Yahya diajukan suatu kemuskilan yang beliau sendiri belum
menemukan pemecahannya, maka ia katakan : “pertanyaan anda saya catat dahulu untuk kucari pemecahannya. Diatas orang berilmu, masih ada yang lebih banyak ilmunya.”

وفائدة المطارحة والمناظرة أقوى من فائدة مجرد التكرار لأن فيه تكرارا
وزيادة. وقيل: مطارحة ساعة، خير من تكرار شهر. لكن إذا كان [مع] منصف سليم
الطبيعة. وإياك والمذاكرة مع متعنت غير مستقيم الطبع، فإن الطبيعة متسرية،
والأخلاق متعدية، والمجاورة مؤثرة.

Faedah mutharahah dan mudzakarah itu jelas lebih besar daripada sekedar
mengulang pelajaran sendirian, sebab disamping berarti mengulang pelajaran, juga menambah pengetahuan yang baru. Ada dikatakan : “Sesaat mutharahah dilakukan, lebih bagus mengulang pelajaran sebulan. “Sudah tentu harus dilakukan dengan orang yang insaf dan bertabiat jujur. Awas
jangan mudzakarah dengan orang yang sekedar mencari menang dalam
pembicaraan semata, lagi pula bertabiat tidak jujur. Sebab tabiat itu suka merampas, akhlak mudah menjalar sedang perkumpulan pengaruhnya besar.

وفى الشعر الذى ذكره الخليل بن أحمد فوائد كثيرة، قيل:

العلم من شرطه لمن خـــــدمه     أن يجعل الناس كلهم خـــدمه

Syi’ir yang dibawakan oleh Khalil bin ahmad di atas, telah banyak
membawa petunjuk. Ada dikatakan :

    Persyaratan ilmu bagi pengabdinya
  
    Menjadikan seluruh manusia, agar mengabdi kepadanya
  

    Menggali Ilmu

    

وينبغى لطالب العلم أن يكون متأملا فى جميع الأوقات فى دقائق العلوم ويعتاد
ذلك، فإنما يدرك الدقائق بالتأمل، فلهذا قيل: تأمل تدرك.

Pelajar hendaknya membiasakan diri sepanjang waktu untuk mengangan-angan
dan memikirkan. Karena itu, orang berkata : “angan-anganlah, pasti akan kau temukan.”

ولا بد من التأمل قبل الكلام حتى يكون صوابا، فإن الكلام كالسهم، فلا بد من
تقويمه قبل الكلام حتى يكون مصيبا. وقال فى أصول الفقه: هذا أصل كبير وهوأن
يكون كلام الفقيه المناظر بالتأمل.

قيل: رأس العقل أن يكون الكلام بالتثبت والتأمل.

قال قائل شعرا:    أوصيك فى نظم الكلام بخمسة        إن كنت للموصى الشفيق
مطيعا

لا تغفلن سبب الكـــــلام ووقته        والكيف والكــــم والمكان جميعا

Tidak bisa tidak, agar omongan tepat itu harus terlebih dahulu di angan-angan sebelum berbicara. Ucapan adalah laksana anak panah, dimana tepat pada sasaran bila dibidikan terlebih dahulu dengan mengangan-angan. 

Dalam Ushul Fiqh ada dikatakan bahwa mengangan-angan adalah dasar yang amat penting. Maksudnya, hendaklah ucapan ahli fiqh yang teliti itu terlebih dahulu harus diangan-angan. Ada diaktakan :
“Modal akal ialah ucapan yang tidak sembarangan serta diangan-angan
terlebih dahulu.” Lain orang berkata :
  
    Pesan untukmu, tata bicara ada lima perkara

Jika kau taat pada pemesan yang suka rela

    jangan sampai terlupa :

apa sebabnya, kapan waktunya, bagaimana caranya,

berapa panjangnya dimana tempatnya itulah semua.

ويكون مستفيدا فى جميع الأوقات والأحوال من جميع الأشخاص قال رسول الله صلى
الله عليه وسلم: الحكمة ضالة المؤمن أينما وجدها اخذها.    وقيل: خذ ما
صفا، ودع ما كدر. وسمعت الشيخ الإمام الأجل الأستاذ فخر الدين الكاشانى
يقول: كانت جارية أبى يوسف أمانة عند محمد [ بن الحسن] فقال لها: هل تحفظين
أنت فى هذا الوقت عن أبى يوسف فى الفقه شيئا؟ فقالت: لا، إلا أنه كان يكرر
ويقول: سهم الدور ساقط، فحفظ ذلك منها، وكانت تلك المسألة مشكلة على محمد
فارتفع أشكاله بهذه الكلمة. فعلم أن الإستفادة ممكنة من كل أحد.

Seluruh waktunya dan dalam situasi bagaimanapun, pelajar hendaknya
mengambil pelajaran dari siapapun. Rasulullah saw bersabda: “Hikmah itu
barang hilangnya orang mukmin dimana asal ia temui supaya diambil juga.”

Ada dikatakan: “Ambillah yang jernih tinggalkanlah yang keruh.” Saya mendengar ucapan Syaikhul Imam Ustadz Fakhrudin Al-Kasyani : “Adalah jariyah Abu Yusuf menjadi amanat buat Muhammad, lalu kepada Muhammad bertanya: Adakah sekarang saudari masih hafal sedikit tentang fiqh dari Abu Yusuf? Jawabnya : ah, tidak tuan, hanya saya ketahui ia sering mengulang-ulang ilmunya dan pernah berkata: “Saham daur itu gugur tak dapat bagian. 

“Dengan itu Muhammad lalu menjadi hafal dan yang tadinya masalah saham daur terasa sulit bagi muhammad, sekarang sudah
terpecahkan. Akhirnya tahulah bahwa belajar itu bisa dilaksanakan dari
siapa saja.”

ولهذا قال ابو يوسف حين قيل: بم أدركت العلم؟ قال: ما استنكفت من الإستفادة
من كل أحد وما بخلت من الإفادة. وقيل لابن عباس رحمه الله: بم أدركت
العلم؟    قال: بلسان سؤول، وقلب عقول.

Dikala kepada Abu Yusuf ditanyakan: “Dengan apakah tuan memperoleh ilmu?
beliau menjawab: “Saya tidak merasa malu belajar dan tidak kikir mengajar”. Ada ditanyakan kepada Ibnu Abbas ra : “dengan apakah tuan mendapat ilmu?” beliau menjawab : “Dengan lisan banyak bertanya dan hati selalu berpikir.”

وإنما سمي طالب العلم: ما تقول، لكثرة ما كانوا يقولون فى الزمان الأول. ما
تقول فى هذه المسألة؟.

Adanya pelajar digelari dengan “Ma Taqulu” (Bagaimana keteranganmu) sebab pada masa dulu mereka amat terbiasa untuk mengucapakan “Bagaimana keterangan anda dalam masalah ini?”

وإنما تفقه أبو حنيفة رحمه الله بكثرة المطارحة والمذاكرة فى دكانه حين كان
بزازا.     فبهذا يعلم أن تحصيل العلم والفقه يجتمع مع الكسب. وكان أبو حفص
الكبير يكتسب ويكرر العلوم، فإن كان لا بد لطالب العلم من الكسب لنفقة
العيال وغيره فليكتسب وليكرر وليذاكر ولا يكسل.

Hanya dengan banyak mutharahah dan mudzakarah di kedainyalah, Abu Hanifah pedagang kain itu menjadi alim fiqh. Melihat kenyataan tersebut, kita bisa tahu bahwa menuntut ilmu dan fiqh itu bisa pula dilakukan bersama-sama dengan bekerja mencari uang. Abu Hafsh Al-Kabir sendiri
bekerja sambil mengulang-ulang pelajarannya sendiri. Karena itu, apabila
seorang pelajar harus juga mencarikan nafkah keluarga dan segenap tanggungannya, bisalah kiranya di tengah-tengah keasyikan bekerjanya itu sambil mempelajari sendiri pelajarannya dengan semangat dan segiat mungkin.

  

    Pembiayaan Untuk Ilmu

    

وليس لصحيح العقل والبدن عذر فى ترك التعلم والتفقه، فإنه لا يكون أفقر من
أبى يوسف، ولم يمنعه ذلك من التفقه.

Orang yang kebetulan sehat badan dan pikirannya, tiada lagi alasan baginya untuk tidak belajar dan tafaqquh sebab tidak ada lagi yang lebih melarat daripada Abu Yusuf, tapi toh tidak pernah melupakan pelajarannya.

. فمن كان له مال كثير فنعم المال الصالح للرجل الصالح، المنصرف فى طريق
العلم. قيل لعالم: بم أدركت العلم؟ قال: بأب غني. لأنه كان ينتفع به أهل
العلم والفضل، فإنه سبب زيادة العلم لأنه شكر على نعمة العقل والعلم، وإنه
سبب الزيادة. قيل: قال أبو حنيفة رحمه الله: إنما أدركت العلم بالحمد
والشكر، فكلما فهمت ووفقت على فقه وحكمة قلت: الحمد لله، فازداد علمى.

Apabila seseorang kebetulan kaya raya, alangkah bagusnya bila harta yang
halal itu di miliki orang shaleh. Ada ditanyakan kepada seorang yang
alim “dengan apa tuan mendapatkan ilmu?” lalu menjawabnya: “Dengan
ayahku yang kaya. Dengan kekayaan itu, beliau berbakti kepada ahli ilmu
dan ahli keutamaan”. Perbuatan seperti ini, berarti mensyukuri nikmat
akal dan ilmu, yang hal itu menyebabkan bertambahnya ilmu. ada dikatakan
orang, bahwa Abu Hanifah berucap: “Hanya saja kudapatkan ilmu dengan
Bersyukur dan Hamdallah. Tiap-tiap berhasil kufahami fiqh dan hikmah
selalu saja kuucapkan Hamdalah. Dengan cara itu, jadi berkembanglah ilmuku.”
  

    Bersyukur

    

وهكذا ينبغى لطالب العلم أن يشتغل بالشكر باللسان والجنان والأركان والحال
ويرى الفهم والعلم والتوفيق من الله تعالى ويطلب الهداية من الله تعالى
بالدعاء له والتضرع إليه، فإن الله تعالى هاد من استهداه.

Demikianlah, pelajar harus menyatakan syukurnya dengan lisan, hati,
badan dan juga hartanya. Mengetahui/menyadari bahwa kefahaman, ilmu dan taufik itu semuanya datang dari hadirat Allah Swt. Memohon hidayahnya
dengan berdo’a dan meronta, karena hanya Dialah yang memberikan hidayah
kepada siapa saja yang memohon.

فأهل الحق ـ وهم أهل السنة والجماعة ـ طلبوا الحق من الله تعالى، الحق
المبين الهادى العاصم، فهداهم الله وعصمهم عن الضلالة. وأهل الضلالة أعجبوا
برأيهم وعقلهم وطلبوا الحق من المخلوق العاجز وهو العقل، لأن العقل لا يدرك
جميع الأشياء كالبصر، فإنه لا يبصر جميع الأشياء فحجبوا وعجزوا عن معرفته،
وضلوا وأضلوا. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الغافل من عمل بغفلته
والعاقل من عمل بعقله. فالعمل بالعقل أولا: أن يعرف عجزنفسه, قال رسول الله
صلى الله عليه وسلم: من عرف نفسه فقد عرف ربه, فإذا عرف عجز نفسه عرف قدرة
الله عزوجل, ولا يعتمد على نفسه وعقله بل يتوكل على الله, ويطلب الحق منه.
ومن يتوكل على الله فهو حسبه ويهد يه إلى صراط مستقيم.

Akhlul Haq yaitu Ahli Sunah Wal Jama’ah selalu mencari kebenaran dari Allah yang maha benar, petunjuk, penerang yang memelihara, Maka Allahpun menganugrahi mereka hidayah dan membimbing dari jalan yang sesat. Lain halnya dengan ahli sesat, dimana ia membanggakan pendapat dan akal
sendiri, mereka mencari kebenaran berdasar akal semata, yaitu suatu makhluk yang lemah. Merekapun lemah dan terhalangi dari kebenaran, serta sesat yang menyesatkan, kerena akal itu tak ubahnya seperti pandangan mata yang tidak mampu mencari segala yang ada secara menyeluruh.

Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa mengetahui dirinya sendiri, maka
dia mengetahui Tuhannya. “Artinya, siapa tahu kelemahan dirinya, maka akan tahulah kebesaran kekuasaan Allah. Karena orang itu jangan berpegang dengan diri dan akal sendiri, tapi haruslah bertawakal kepada
Allah, dan kepadaNya pula ia mencari kebenaran. Barang siapa bertawakal
kepada Allah, maka akan dicukupinya dan di bimbing ke jalan yang lurus.

  

    Pengorbanan Harta Demi Ilmu

    

ومن كان له مال كثير فلا يبخل, وينبغى أن يتعوذ بالله من البخل. قال النبى
عليه السلام: أي دواء أدوأ من البخل. وكان أبو الشيخ الإمام الأجل شمس
الأئمة الحلوانى, رحمه الله فقيرا يبيع الحلواء, وكان يعطى الفقهاء من
الحلواء ويقول: أدعوا لابنى, فببركة جوده واعتقاده وشفقته وتضرعه إلى الله
تعالى نال ابنه ما نال

Orang kaya jangan kikir, dan hendaklah mohon perlindungan kepada Allah
agar tidak kikir. Nabi saw bersabda: “Manakah penyakit yang lebih keras
daripada kikir? Bapaknya Syaikhul Imam Agung Syamsul Aimmah Al-Halwaniy
adalah seorang fakir penjual kue halwak. Bapak ini menghadiahkan beberapa biji tersebut kepada fuqaha, dan katanya: “Kumohon tuan mendo’akan putraku.” Demikianlah, sehingga atas berkah dermawan, I’tikad baik, suka rela dan merontanya itu, sang putra mendapat kesuksesan cita-citanya.

ويشترى بالمال الكتب ويستكتب فيكون عونا على التعلم والتفقه

Dengan harta yang dimiliki, hendaklah suka membeli kitab dan mengaji
menulis jika diperlukan. Demikian itu akan lebih memudahkan belajar dan bertafaqquh.

وقد كان لمحمد بن الحسن مال كثير حتى كان له ثلاثمائة من الوكلاء على ماله
وأنفقه كله فى العلم والفقه, ولم يبق له ثوب نفيس فرآه أبو يوسف فى ثوب خلق
فأرسل إليه ثيابا نفيسة فلم يقبلها فقال: عجل لكم, وأجل لنا, ولعله إنما لم
يقبله وإن كان قبول الهدية سنة, لما رأى فى ذلك مذلة لنفسه. قال رسول الله
عليه الصلاة والسلام: ليس للمؤمن أن يذل نفسه

Muhammad Ibnul Hasan adalah seorang yang hartawan besar yang mempunyai
300 orang pegawai yang mengurusi kekayaannya, toh suka membelanjakan
sekalian kekayaannya demi ilmu, sehingga pakaiannya sendiripun tiada yang bagus. 

Dalam pada itu, Abu Yusuf menghaturkan sepotong pakaian yang masih bagus untuknya, namun tidak berkenan menerimanya dan malah ujarnya: Untukmulah harta dunia, dan untukku harta akherat saja. “Yang demikian itu sekalipun menerima hadiah sendiri hukumnya sunnah,
barangkali memandangnya dapat mencemarkan dirinya. Dalam hal ini
Rasulullah saw bersabda: “Orang yang mencemarkan dirinya sendiri, tidaklah termasuk ke dalam golongan kaum muslimin.”

وحكي أن الشيخ فخر الإسلام الأرسابندى رحمه الله جمع قشور البطيخ الملقاة
فى مكان خال فأكلها فرأته جارية فاخبرت بذلك مولاها فاتخذ له دعوة فدعاه
إليها فلم يقبل لهذا

Suatu hikayat, bahwa fakrul Islam Al-Arsyabandiy makan kulit-kulit
semangka yang dibuang orang, dimana ia kumpulkan sendiri dari tempat-tempat yang sepi. Pada suatu ketika ada seorang jariyah yang mengetahuinya, lalu melaporkan hal itu kepada tuannya. Maka setelah disediakan jamuan makan, Fakhrul Islampun dimohon kehadirannya. Namun demi menjaga dirinya agar tidak tercemar, beliau tidak berkenan
menghadiri jamuan tersebut.

  

    Loba Dan Tama’

    

وهكذا ينبغى لطالب العلم أن يكون ذا همة عالية لا يطمع فى أموال الناس. قال
النبى صلى الله عليه وسلم: إياك والطمع فإنه فقر حاضر. ولا يبخل بما عنده
من المال بل ينفق على نفسه وعلى غيره.

Demikianlah, sehingga para pelajar jangan sampai tama’ mengharapkan
harta orang lain. Ia hendaknya memiliki Himmah yang luhur. Nabi saw
bersabda : “Hindarilah tama’ karena dengan tama’ berarti kemiskinan
telah menjadi”. Tapi tuan juga jangan kikir, sukalah membelanjakan
hartanya untuk keperluan diri sendiri dan kepentingan orang lain.

  

    Pelaksanaan Pelajaran Keterampilan

    

قال النبى عليه الصلاة والسلام: الناس كلهم فى الفقر مخافة الفقر وكانوا فى
الزمان الأول يتعلمون الحرفة ثم يتعلمون العلم حتى لايطمعوا فى أموال
الناس. وفى الحكمة من استغنى بمال الناس افتقر

Nabi saw bersabda : “Karena khawatir melarat, semua manusia telah jadi
melarat’. Pelajar-pelajar dimasa dulu sebelum mempelajari ilmu agama,
lebih dahulu belajar bekerja, agar dengan begitu tidak tama’ mengharap
harta orang lain. Dalam kata hikmah disebutkan: “Barangsiapa mencukupi
diri dengan harta orang lain, berarti ia melarat.”

والعالم إذا كان طماعا لا يبقى له حرمة العلم ولا يقول بالحق ولهذا كان
يتعوذ صاحب الشرح عليه السلام ويقول أعوذ بالله من طمع يدنى إلى طبع.

Jika orang alim bersifat tama’, hilanglah nilai ilmunya dan ucapannya tidak bisa dibenarkan lagi. Karena itu, Rasulullah saw pembawa syareat berlindung diri dari sabdanya: “Aku berlindung diri kepada Allah dari sifat tama’ yang membawa kepada tabiat jahat.”
  
    Lillahi Ta’ala
    

وينبغى أن لا يرجو الأمن الله تعالى ولا يخاف إلا منه ويظهر ذلك بمجاوزة حد
الشرع وعدمها فمن عصى الله تعالى خوفا من المخلوق فقد خاف غير الله تعالى،
فإذا لم يعص الله تعالى لخوف المخلوق وراقب حدود الشرع فلم يخف غير الله
تعالى بل خاف الله تعالى وكذا فى جانب الرجاء.

Tumpuan harapan sang pelajar hanyalah kepada Allah, takutpun hanya kepadaNya. Sikap tersebut bisa di ukur dengan melampaui batas-batas agama atau tidak. Barangsiapa takut kepada sesama makhluk lalu ia mendurhakai Allah, maka berarti telah takut kepada selain Allah. 

Tapi sebaliknya bila ia telah takut kepada makhluk namun telah taat kepada
Allah dan berjalan pada batas-batas syareat, maka tidak bisa dianggap telah takut kepada selain Allah. Ia masih dinilai takut kepada Allah. Begitu pula dalam masalah harapan seseorang.

      Mengukur Kemampuan Diri Sendiri

    

وينبغى لطالب العلم أن يعد ويقدر لنفسه تقديرا فى التكرار فإنه لا يستقر
قلبه حتى يبلغ ذلك المبلغ.

Hendaknya (yang lebih efisien dan efektif untuk menghafalkan pelajaran yaitu) : Pelajaran hari kemarin diulang 5 kali, hari lusa 4 kali hari kemarin lusa 3 kali, hari sebelum itu 2 kali dan hari sebelumnya lagi 1kali.

    Metoda Menghafal

    

وينبغى لطالب العلم أن يكرر سبق الأمس خمس مرات وسبق اليوم الذى قبل الأمس
أربع مرات والسبق الذى قبله ثلاثا والذى قبله اثنين والذى قبله واحدا فهذا
أدعى إلى الحفظ.

Suatu cara yang efisien dan efektif untuk menghafalkan pelajaran yaitu :
Pelajaran hari kemarin diulang 5 kali, hari lusa 4 kali, hari kemarin lusa 3 kali, hari sebelum itu 2 kali, dan hari sebelumnya lagi satu kali.

وينبغى أن لا يعتاد المخافة فى التكرار لأن الدرس والتكرار ينبغى أن يكون
بقوة ونشاط، ولا يجهر جهرا يجهد نفسه كيلا ينقطع عن التكرار، فخير الأمور
أوسطها. وحكى أن أبا يوسف رحمه الله كان يذاكر الفقه مع الفقهاء بقوة
ونشاط، وكان صهره عنده يتعجب فى أمره ويقول: أنا أعلم أنه جائع منذ خمسة
أيام، ومع ذلك يناظر بقوة ونشاط.

Hendaknya dalam mengulangi pelajarannya itu jangan pelan-pelan. Belajar
lebih bagus bersuara kuat dengan penuh semangat. Namun jangan terlalu
keras, dan jangan pula hingga menyusahkan dirinya yang menyebabkan tidak
bisa belajar lagi. Segala sesuatu yang terbaik adalah yang cukupan.

Suatu hikayat menceritakan, bahwa suatu saat Abu Yusuf sedang mengikuti
mudzakarah fiqh dengan suara kuat dan penuh semangat. Lalu dengan rasa
heran, iparnya berkata: “saya tahu Abu Yusuf telah lima hari kelaparan,
tapi ia tetap munadharah dengan suara keras dan penuh semangat.

  

    Panik Dan Bingung

    

وينبغى أن لا يكون لطالب العلم فترة فإنها آفة، وكان أستاذنا شيخ الإسلام
برهان الدين رحمه الله يقول: إنما غلبت شركائى بأنى لا تقع لى الفترة فى
التحصيل. وكان يحكى عن الشيخ الأسبيجابى أنه وقع فى زمان تحصيله وتعلمه
فترة اثنتى عشرة سنة بانقلاب الملك، فخرج مع شريكه فى المناظرة [إلى حيث
يمكنهما الإستمرار فى طلب العلم وظلا يدرسانه معا] ولم يتركا الجلوس
للمناظرة اثنتى عشرة سنة. فصار شريكه شيخ الإسلام للشافعيين وكان هو شافعيا.

Seyogyanya pelajar tidak panik dan kebingungan, sebab itu semua adalah
afat. Guru kita Syaikhul Islam Burhanuddin berkata: “Sesungguhnya saya
dapat melebihi teman-temanku adalah karana selama belajar tidak pernah
merasa panik, kendor dan kacau”. Hikayat menceritakan, bahwa Syaikh
Al-Asbijabiy di masa belajarnya mengalami masa jumud selama 12 tahun
lantaran pergantian Raja. Iapun pergi keluar negeri bersama seorang
sahabatnya guna mengadakan munadharah setiap hari di sana. Demikian
munadharah dilakukan selama 12 tahun. Akhirnyapun sahabat tadi menjadi
Syaikhul Islam beraliran madzhab Syafi’I ikutan kaum syafi’iyyin.
R. Sebuah Methode Belajar.

وكان أستاذنا الشيخ القاضى الإمام فخر الإسلام قاضى خان يقول: ينبغى
للمتفقه أن يحفظ [كتابا] واحدا من [كتب] الفقه دائما فيتيسر له بعد ذلك حفظ
ما سمع من الفقه.

Guru kami Syaikh Qadli Imam Fakhrul Islam Qadlikhan berkata: Bagi pelajar Fiqh, agar selalu hafal di luar kepala sebuah kitab fiqh. Dengan begitu, akan lebih memudahkan dalam mnghafalkan ilmu fiqh yang baru yang
di dengarkan.

فصل

فى التوكل



http://caraislam.weebly.com/ ISLAM ITU INDAH